Asisten : yahdi fakultas matematika dan ilmu pengetahuan alam universitas negeri padang



Yüklə 73.17 Kb.
tarix04.06.2017
ölçüsü73.17 Kb.
IDENTIFIKASI SENYAWA ORGANIK BAHAN ALAM PADA DAUN KUMIS KUCING (ORTHOSIPHON ARISTATUS)

MAKALAH PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK II
http://4.bp.blogspot.com/-uft3og8pxuu/vtmhahcwtei/aaaaaaaaaoe/r1fm6outdbw/s1600/kk.gif

NAMA : SANTRI YULI ERNICA
NIM : 14035105
KELOMPOK : 2
DOSEN : DRA. SURYELITA, M.Si

MELINDRA MULIA, M.Si
ASISTEN : YAHDI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2016
BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Kumis kucing (Orthosiphon aristatus) merupakan salah satu tanaman dari sekian banyak tanaman obat yang ada di Indonesia dan sering digunakan masyarakat untuk pengobatan tradisional. Masyarakat secara turun temurun memanfaatkan daunnya sebagai obat untuk hipertensi dan batu ginjal karena efek diuretik yang dimilikinya, dan hal ini karena adanya kandungan flavonoid di dalamnya .

Metabolit sekunder adalah molekul organik yang tidak secara langsung dalam pertumbuhan dan perkembangan normal dari suatu organisme. Metabolit sekunder dapat ditandai oleh keragaman kimia yang sangat besar, dimana setiap organisme memiliki karakteristik tersendiri dalam setiap kandungan metabolit sekundernya. Senyawa metabolit sekunder banyak terdapat di tumbuhan yang sudah diolah menjadi ekstrak, fraksi ataupun kristal. Metabolit sekunder dalam  kumis kucing (Orthosiphon aristatus) adalah alkaloid, flavonoid, terpenoid dan steroid.

Senyawa metabolit sekunder dalam daun kumis kucing (Orthosiphon aristatus) dapat ditentukan dengan menggunakan metode skrining fitokimia yang bertujuan untuk mengidentifikasi jenis senyawa metabolit sekunder dalam sampel dengan menggunakan pereaksi tertentu. Salah satu keunggulannya yaitu  lebih mudah digunakan dan alat yang digunakan sedikit. Berdasarkan uraian tersebut, maka dilakukanlah percobaan ini untuk mengidentifikasi senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam fraksi dan kristal daun kumis kucing (Orthosiphon aristatus).


B.  Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam percobaan ini yaitu:

1. Bagaimana cara mengidentifikasi senyawa metabolit sekunder dengan menggunakan peraksi?

  2.   Senyawa metaboli sekunder apa yang terdapat dalam fraksi dan kristal daun kumis kucing (Orthosiphon aristatus)?


C.  Tujuan

Tujuan dalam percobaan ini yaitu:

1.  Untuk mengetahui  cara mengidentifikasi senyawa metabolit sekunder dengan menggunakan peraksi.

2.   Untuk mengetahui Senyawa metaboli sekunder apa yang terdapat dalam    fraksi dan kristal daun kumis kucing (Orthosiphon aristatus).



BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A.  Kumis Kucing (Orthosiphon sramineus Benth)

Tanaman kumis kucing (Orthosiphon sramineus Benth) adalah termasuk familia Libiatae, tempat pertumbuhannya di beberapa daerah di tanah air. Suka sekali akan keadaan yang agak basah. Daun-daunnya berkhasiat obat, pengumpulan daun biasanya dilakukan ketika tanaman ini berbunga, daun-daun ini berbau aromatik, lemah, rasanya kalau diperhatikan benar agak asin, agak pahit dan sepet .

Uraian makroskopik dari daun kumis kucing (Orthosiphon sramineus Benth)  yaitu:

1.      Daunnya berwarna hijau, merupakan daun tunggal, bertangkai, berbentuk bulat telur, ada pula yang belah ketupat memanjang seperti lidah tombak.

2.      Keadaan daun agak rapuh, panjang 4 cm-12 cm, lebar 5 cm-8 cm.

3.      Tepi-tepinya bergerigi kasar tidak beraturan, ujung daun dan pangkalnya meruncing.

4.      Tepi daun dan tulang daun berbulu, warna tulang daun ini hijau, tetapi ada pula yang keunguan.

Daun kumis kucing (Orthosiphon sramineus Benth) berkhasiat sebagai peluruh air seni (deuretik), radang kandung kemih, ginjal, dan untuk obat rematik. Senyawa kimia yang terdapat dalam daun kumis, antara lain garam kalium dan senyawa saponin. Kandungan utama yang paling stabil dalam daun kumis kucing ialah sinesetin .

Klasifikasi dari daun kumis kucing (Orthosiphon sramineus Benth) adalah sebagai berikut:

Sinonim                         : Orthosiphon stamineus Benth

Klasifikasi                      : Spermathophyta

Sub Divisio                    : Angiospermae

Kelas                              : Dicotyledonae

Bangsa                           : Tubiflorae

Suku                              : Labiatae

Marga                            : Orthosipon

Jenis                               : Orthosipon spicatus B.B.S.

Manfaat Tanaman Kumis Kucing


Masyarakat lebih sering menggunakan tanaman kumis kucing untuk menjalani terapi pengobatan herbal. Jenis daun yang dipakai kadang basah ada juga yang kering, tergantung bagaimana resep yang diberikan oleh pakar pengobatan tradisional.

Di tanah air daun kumis kucing kering berguna sebagai peluruh air kemih (diuretik), dan dijadikan obat rematik oleh penduduk India di perkampungan. Selain itu, kegunaan tanaman kumis kucing secara empiris lain juga sebagai obat batuk, encok, masuk angin dan konstipasi.

Bagian daun kumis kucing bisa dijadikan obat untuk menyembuhkan radang ginjal, batu ginjal, sipilis, albuminuria, kencing manis, rematik, dan menurunkan kadar gula dalam darah. Penggunaan luar juga memanfaatkan sifat antibakterinya, misalnya menghilangkan rasa gatal akibat alergi.

Keampuhan tanaman kumis kucing sebagai tumbuhan obat tak lepas dari kandungan senyawa seperti glikosida orthosiphonin, zat samak, saponin, mineral seperti kalium, mionositol, sapofonin, dan sinensetin. Banyaknya kandungan tersebut membuat masyarakat tidak ragu dalam mengonsumsi buah ini sebagai obat dalam.



B.  Senyawa Metabolit Sekunder

Senyawa metabolit sekunder bahan alam dikatakan sebagai produk murni dari alam. Bahan alam ini dapat meliputi seluruh organisme misalnya tumbuhan, hewan atau mikroorganisme lainnya yang belum pernah mengalami proses pengolahan. Selain itu, ada juga bahan alam dari bagian suatu organisme seperti daun, bunga atau organ hewan yang terisolasi. Ekstrak dan senyawa murni juga merupakan bagian dari bahan alam seperti alkaloid, kumarin, flavonoid, glikosida, lignan yang diisolasi dari tumbuhan, hewan dan mikroorganisme .



1.      Fenolik

Fenolik yang paling banyak di alam yaitu flavonoid. Metabolit sekunder yang seperti flavonoid yang memberikan konstribusi keindahan warna dan kesemarakan pada bunga dan buah-buahan di alam. Flavon memberikan warna kuning dan jingga, antosianin memberikan warna merah, biru atau ungu yaitu semua warna yang terdapat pada pelangi kecuali warna hijau. Secara bilogis, flavonoid memainkan peranan penting dalam kaitan penyerbukan pada tanaman oleh serangga. Sejumlah flavonoid mempunyai rasa pahit hingga dapat bersifat menolak sejenis ulat tertentu .



2.      Alkaloid

Alkaloid sesungguhnya adalah racun, senyawa tersebut mennjukkan aktivitas fisilogi yang luas, hampir tanpa terkecuali bersifat basa. Lazim mengandung nitrogen dalam cincin heterosiklik, diturunkan dari asam amino biasanya terdapat dalam tanaman sebagai garam asam organik .

Sifat fisika alkaloid, kebanyakan alkaloid yang sudah diisolasi berupa padatan kristal dengan titik lebur yang tertentu atau mempunyai kisaran dekomposisi. Sedikit alkaloid yang berbentuk amorf dan beberapa nikotin  dan konin berupa cairan. Kebanyakan alkaloid tidak berwarna, tetapi beberapa senyawa kompleks spesies aromatik berwarna (contoh berberin  berwarna kuning dan betanin berwarna merah). Umumnya, basa bebas hanya larut dalam pelarut organik meskipun beberapa pseudo dan protoalkaloid larut dalam air. Garam alkaloid dan alkaloid quartener sangat larut dalam air .

Sifat kimia alkaloid. Kebanyakan alkaloid bersifat basa. Sifat tersebut tergantung adanya pasangan elektron pada nitrogen. Jika gugus fungsional yang berdekatan dengan nitrogen bersifat melepaskan elektron sebagai contoh gugus alkil, maka ketersediaan elektron pada nitrogen naik dan  senyawa lebih bersifat basa .



3.    Terpenoid

Nama terpen diberikan kepada senyawa yang mempunyai perumusan molekul C10H16 yang secara etimologi berasal dari pohon terebinth, Pistacia terebintuhus. Volatilitas mereka yang mudah dikenal dalam tanaman yang berbau harum dan disamping itu senyawa terpen mudah sekali diisolasi dengan cara destilasi dari daun, batang dan bunga yang kemudian dikenal dengan minyak “essential” atau disebut juga minyak atsiri. Banyak minyak atsiri yang digunakan untuk berbagai keperluan seperti sebagai pengharum makanan, farfum, obat-obatan dan sebagainya. Meskipun banyak minyak atsiri merupakan senyawa terpenoid namun demikian pengertian tersebut tidak berlaku umum karena terdapat senyawa nonterpenoid filiage dan bunga juga volatil dan berbau harum .

Kebanyakan senyawa terpenoid terdapat bebas dalam jaringan tanaman, tidak terikat dengan senyawa-senyawa lain, tetapi banyak diantara mereka yang terdapat sebagai glikosida, ester dari asam organik dan dalam beberapa hal terikat dengan protein. Anggota yang rendah (senyawa C10 dan C15) sering dapat diperoleh dengan cara distilasi uap dengan tanaman yang segar atau kering sedangkan anggota yang lebih tinggi (C20 atau lebih) biasanya diisolasi dengan cara ekstraksi dengan pelarut kemudian dipisahkan dan dimurnikan dengan cara kristalisasi, destilasi dan kromatografi .
C.  Skrining Fitokimia

Penapisan fitokimia adalah pemeriksaan kandungan kimia secara kualitatif untuk mengetahui golongan senyawa yang terkandung dalam suatu tumbuhan. Pemeriksaan dilakukan pada senyawa metabolit sekunder yang memiliki khasiat bagi kesehatan seperti alkaloid, glikosida, flavonoid, terpenoid, tanin dan saponin .

Menurut Lumbanraja , bahwa pereaksi yang umum digunakan dalam skrining fitokimia yaitu:

1.    Mayer

Pereaksi meyer dapat dibuat dari merkuri (II) klorida dilarutkan dalam air suling. Kalium iodida dalam air suling kemudian kedua larutan ini dicampur dan ditambahkan air suling. Warna positifnya yaitu endapan putih atau kuning.



2.    Larutan Pereaksi Dragendorff

Pereaksi dragendorf dapat dibuat dari bismut nitrat dalam asam nitrat pekat. Kalium iodida dalam air suling. Larutan jernih diambil dan diencerkan dengan air suling. Warna positifnya yaitu terbentuk larutan berwarna coklat.



3.    Larutan Pereaksi Lieberman Bouchardat

Pereaksi lieberman bourchard dapat dibuat dari kalium iodida dalam air suling iodium. Warna positifnya yaitu merah-ungu (terpenoid) dan hijau (steroid).



4.    Larutan Pereaksi Besi(III)Klorida 1%

Pereaksi besi(III)klorida dapat dibuat dari besi (III) klorida dalam air suling kemudian disaring. Warna positifnya yaitu biru kehitaman atau hijau kekuningan.


D.  Pelarut Organik

1.    N-heksana

N-heksana adalah sebuah senyawa hidrokarbon alkana dengan rumus kimia C6H14. Awalan heks- merujuk pada enam karbon atom yang terdapat pada heksana dan akhiran -ana berasal dari alkana, yang merujuk pada ikatan tunggal yang menghubungkan atom-atom karbon tersebut. Senyawa dalam keadaan standar  merupakan cairan tak berwarna yang tidak larut dalam air .

Sifat fisika dan kimia n-heksan dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 2. 1. Sifat Fisika dan Kimia n-Heksan


Karakterisasi

Syarat

Bobot molekul

Warna


Wujud

Titik lebur

Titik didih

Densitas


86,2 gram/mol

Tak berwarna

Cair

-95 oC



69 oC

0,6603 g/mL pada 20 oC



2.    Etil asetat (C4H8O2)

Etil asetat adalah cairan jernih, tak berwarna, berbau khas yang digunakan sebagai pelarut tinta, perekat dan resin dibandingkan dengan etanol, etil asetat memiliki koefisien distribusi yang lebih tinggi dibanding etanol termasuk kelarutannya dalam gasoline. Selain dari penggunaannya sebagai pelarut, etil asetat dapat berfungsi sebagai bahan aditif untuk meningkatkan bilangan oktan pada bensin serta dapat berguna sebagaibahan baku kimia serba guna. Pembuatan etil asetat biasanya dilakukan dengan esterifikasi .




BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A.  Waktu dan Tempat

Hari/Tanggal           :   Senin/ 25 April 2016

Pukul                       :   13.20-15.50 WIB

Tempat       Tempat : Laboratorium Kimia Organik, FMIPA, UNP



B.  Alat dan Bahan

1.    Alat

  • Lumpang

  • Pisau

  • Pipet tetes

  • Gunting

  • Pemanas

  • Corong

  • Plat tetes

  • Tabung reaksi

2.    Bahan

  • Pasir halus bersih

  • Amoniak

  • Pereaksi wagner

  • H2SO4 2N

  • Serbuk Mg

  • Kapas

  • H2SO4 pekat

  • Pereaksi dragendorf

  • Anhidrida asetat

  • Kloroform

  • Pereaksi mayer

  • Methanol

  • HCl pekat

  • Contoh tumbuhan

C.  DIAGRAM KERJA

  1. Identifikasi Alkaloid: Metoda Culvenor-Fitzgerald


    1. + 10 ml amoniak kloform 0,05 N

    2. digerus

    3. disaring

    4. 5 ml H2SO4 2 N

    5. Dikocok kuat

    Terbentuk pasta

    1. digerus

    2. + pasir

    3. + kloform


4 gr sampel

dirajang halus




    1. a + pereaksi Mayer

    2. a + pereaksi Wagner

    3. a + pereaksi Dragendorf



Lapisan

asam sulfat



diambil gerusan

dengan pipet yang diberi kapas





Terbentuk dua lapisan



Terbentuk endapan putih (Mayer)

Terbentuk endapan coklat (Wagner)

Terbentuk endapan orange (Dragendorf)



Positif Alkaloid

Nb: Lapisan kloform disimpan untuk pengujian terpenoid



  1. Identifikasi Flavonoid: Shinoda test/sianidin test


    1. + beberapa tetes HCl pekat

    2. + sedikit serbuk Magnesium

    1. Dirajang halus

    2. Diekstrak dengan 5 ml metanol

    3. Dipanaskan selama 5 menit



Ekstrak sampel
0,5 gr sampel


Terbentuk larutan yang berubah warna menjadi merah/pink atau kuning (positif flavonoid)




  1. Identifikasi Steroid/terpenoid: Metoda Lieberman-Buchard


    • Timbul warna merah, jingga atau ungu (positif terpenoid)

    • Timbul warna biru (positif steroid)

    1. + 5 tetes anhidrat asetat

    2. Dibiarkan kering

    3. + 5 tetes H2SO4 pekat


Beberapa tetes

Lapisan kloform



  1. Identifikasi saponin: Uji basa


  1. Terbentuk busa yang stabil selama 5 menit (positif saponin)

    1. Dididihkan 2-3 menit

    2. Didinginkan

    3. dikocok


Sampel kering

Dirajang halus



BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN
A.  Hasil Pengamatan

1.    Tabel Pengamatan


Uji

Pereaksi

Hasil

Alkaloid ( daun kopi)

-       Mayer

-       Wagner

-       Dragendrof


Tidak terbentuk endapan putih/keruh, coklat, orange, dengan pereaksi mayer, wanger, dragendrof, sampel tidak mengandung alkaloid

Flavonoid

Metanol, asam klorida pekat, dan serbuk magnesium

Teradi perubahan warna dari warna hijau ke kemerahan, sampel mengandung flavonoid

Steroid/terpenoid

Kloforom, anhidrida asetat dan H2S04 pekat

Tidak dilakukan

Saponin

Air suling

Terbentuk busa yang stabil, sampel mengandung saponin


http://1.bp.blogspot.com/-i6asb3xjoau/vzk4hmvlfei/aaaaaaaaari/qikfbi9ctaw/s640/g.png

http://4.bp.blogspot.com/-jg5blf0njso/vzk4qauklti/aaaaaaaaarq/vqawue8lnhi/s640/g.png

B.  Pembahasan

Skrining fitokimia adalah pemeriksaan kandungan kimia secara kualitatif untuk mengetahui golongan senyawa yang terkandung dalam suatu tumbuhan. Pemeriksaan dilakukan pada senyawa metabolit sekunder yang memiliki khasiat bagi kesehatan seperti alkaloid, glikosida, flavonoid, terpenoid, tanin dan saponin.

Senyawa metabolit sekunder yang terdapat dalam sampel yaitu flavonoid, steroid, alkaloid dan steroid. Pengujian untuk mengetahui keberadaan senyawa metabolit sekunder ini dapat dilakukan dengan menggunakan pereaksi tertentu misalnya FeCl3, NaOH, wagner, lieberman burchard dan meyer.

Uji flavonoid menggunakan metanol. Hal ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil uji flavonoid dari pereaksi yang bersifat garam dan basa. Hasil yang diperoleh pada larutan berwarna hijau kekuningan yang menandakan bahwa sampel mengandung senyawa flavonoid. Hal ini terjadi karena terjadi pemutusan cincin karbon C3 yang mencirikan asetofenon (berwarna kuning).

Uji alkaloid menggunakan pereaksi meyer (endapan putih-kuning) dan wagner (endapan jingga). Hal ini bertujuan untuk melihat hasil uji alkaloid dari pereaksi yang berbeda. pereaksi ini digunakan untuk mendeteksi adanya senyawa alkaloid dalam fraksi maupun kristal. Hasil yang diperoleh pada pereaksi meyer untuk sampel fraksi dan kristal larutan bening yang menandakan reaksi negatif atau pereaksi meyer tidak mampu menarik senyawa alkaloid dalam sampel yang disebabkan pereaksi yang digunakan untuk menguji terlalu sedikit sehingga uji yang dihasilkan negatif. Sedangkan hasil untuk pereaksi wagner pada sampel fraksi diperoleh endapan jingga  yang menandakan terdapat senyawa alkaloid dalam sampel fraksi. Hal ini dikarenakan, terjadi pengikatan ion K+ pada nitrogen dalam cincin sehingga membentuk endapan berwarna endapan jingga, Sedangkan sampel kristal memberikan warna merah bata yang menunjukkan reaksi tidak berjalan. Hal ini dapat disebabkan karena sampel uji yang digunakan hanya sedikit sehingga sulit untuk dideteksi oleh pereaksi wagner tersebut.

Uji terpenoid dan steroid menggunakan HCl dan anhidrida asetat yang berfungsi untuk mendeteksi adanya senyawa terpenoid (merah-ungu) dan steroid (biru-hijau) dalam sampel fraksi maupun Kristal. Percobaan ini tidak dilakukan.

Uji saponin menggunakan sampel yang sudah dipotong kecil-kecil ditambahkan aquadest di dalam tabung reaksi lalu dilakukan pemanasan selama 2-3 menit. Lalu dikocok. Hasil yang diperoleh terdapat busa yang stabil sehingga dapat disimpulkan bahwa bahan alam yang digunakan mengandung saponin.


BAB V

PENUTUP
A. Kesimpulan

Kesimpulan dalam percobaan ini yaitu:

1. Identifikasi senyawa dengan menggunakan uji pereaksi dilakukan dengan menggunakan metode skrining fitokimia.

2. Senyawa metabolit sekunder yang terdapat dalam fraksi dan kristal daun kumis kucing (Orthosiphon aristatus) yaitu flavonoid dengan FeCl3 memberikan warna hijau kekuningan, alkaloid dengan wagner terbentuk endapan jingga dan steroid dengan lieberman burchard yang memberikan warna hijau.


B. Saran

Saran untuk percobaan selanjutnya yaitu sebaiknya pada uji senyawa flavonoid menggunakan pereaksi timbal(II)asetat yang juga merupakan senyawa garam seperti besi(III)klorida.



DAFTAR PUSTAKA

.

Dalimarta, S. 2000. Atlas Tanaman Indonesia Jilid 2. Jakarta : Trubus Agriwidya.



Fessenden, R dan Fessenden, J. 1986. Kimia Organik Jilid 2 Edisi Ketiga. Alih bahasa oleh Aloysius Hadyana Pudjaatmaka. Jakarta : Erlangga.

Hart, Harold. 1990. Kimia Organik. Jakarta : Erlangga.



Muhlisah, Ir. Fauziah. 1996. Tanaman Obat Keluarga. Jakarta : Penebar Swadaya.
Trevon Robinson. 1991. The Organic Constituents of Higher Plants, Alih bahasa : Dr Kosasih Padmawinata. Bandung : ITB.


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©azkurs.org 2016
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə