Vegetasi untuk konservasi tanah dan air



Yüklə 262.16 Kb.
səhifə4/4
tarix21.08.2017
ölçüsü262.16 Kb.
1   2   3   4

(1). Pergiliran tanaman

Pergiliran tanaman (crop rotation) adalah sistem bercocok tanam dimana sebidang lahan ditanami dengan beberapa jenis tanaman secara bergantian. Tujuan utama dari sistem ini adalah untuk memutuskan siklus hama dan penyakit tanaman dan untuk meragamkan hasil tanaman. Pergantian tanaman ada yang dilakukan secara intensif dimana setelah panen tanaman pertama kemudian langsung ditanami tanaman kedua dan ada pula yang dibatasi periode bera. Daerah yang memiliki musim kering (MK) <4 bulan sangat baik untuk menerapkan sistem ini (Kasdi Subagyono, Setiari Marwanto, dan Undang Kurnia, 2003).



Secara umum ternyata erosi pada tanah Tropaqualfs dipengarujhi oleh pola pergiliran tanaman. Penggunaan sistem pergiliran tanaman intensif secara berurutan, antara tanaman pertama yang disusul tanaman kedua dan seterusnya mampu menekan erosi secara nyata dibandingkan lahan yang hanya diolah tanpa ditanami. Pengaruh nyata tersebut dihasilkan dari fungsi tanaman sebagai pengikat tanah (nilai C koefisien tanaman = 0,371) serta penambahan bahan organik dari sisa tanaman tersebut sebagai mulsa dan pembenah tanah sehingga tahan terhadap erosi. Penggunaan sistem ini disarankan untuk tetap menggunakan pupuk dan teknik konservasi tanah, sehingga hasil tanaman dapat maksimal dan lahan yang dipergunakan dapat terjaga produktivitasnya. Dari segi konservasi tanah, pergiliran tanaman memberikan peluang untuk mempertahankan penutupan tanah, karena tanaman kedua ditanam setelah tanaman pertama dipanen. Demikian seterusnya, sehingga sepanjang tahun intensitas penutupan tanah senantiasa dipertahankan. Kondisi ini akan mengurangi risiko tanah tererosi akibat terpaan butir-butir air hujan dan aliran permukaan.
The rotation of crops is not only necessary to offer a diverse "diet" to the soil micro organisms, but as they root at different soil depths, they are capable of exploring different soil layers for nutrients. Nutrients that have been leached to deeper layers and that are no longer available for the commercial crop, can be "recycled" by the crops in rotation. This way the rotation crops function as biological pumps. Furthermore, a diversity of crops in rotation leads to a diverse soil flora and fauna, as the roots excrete different organic substances that attract different types of bacteria and fungi, which in turn, play an important role in the transformation of these substances into plant available nutrients. Crop rotation also has an important phytosanitary function as it prevents the carry over of crop-specific pests and diseases from one crop to the next via crop residues.
Efek Rotasi Tanaman a.l.:

  • Diversitas yang lebih tinggi dalam produksi tanaman, sehingga gizi bagi manusia dan ternak juga lebih beragam.

  • Reduksi gangguan hama, penyakit dan gulma.

  • Lebih banyaknya ragam biopores dalam tanah yang diciptakan oelh beragam akar tanaman (beragam bentuk, ukuran dan kedalaman akar).

  • Lebih baiknya distribusi air dan hara dalam profil tanah.

  • Exploration for nutrients and water of diverse strata of the soil profile by roots of many different plant species resulting in a greater use of the available nutrients and water.

  • Increased nitrogen fixation through certain plant-soil biota symbionts and improved balance of N/P/K from both organic and mineral sources.

  • Peningkatan pembentukan humus.



http://www.fao.org/ag/ca/foto/6.gif

Pola pergiliran (rotasi) tanaman dalam sehatun untuk menjaga kesuburan tanah (sumber: http://www.fao.org/ag/ca/1b.html)

(2). Tumpang sari

Tumpang sari (intercropping) adalah sistem bercocok tanam dengan menggunakan dua atau lebih jenis tanaman yang ditanam serentak/bersamaan pada sebidang tanah. Sistem tumpang sari sebagian besar dikelola pada pertanian lahan kering yang hanya menggantungkan air hujan sebagai sumber air utama. Sistem tumpang sari adalah salah satu usaha konservasi tanah yang efektif dalam memanfaatkan luas lahan. Tanaman yang ditanam dapat berupa jagung dengan kacang tanah, jagung dengan kedelai, dan sebagainya. Tanaman tersebut dapat berupa tanaman penambat nitrogen, berperakaran dalam maupun dangkal yang pada prinsipnya saling menguntungkan (Kasdi Subagyono, Setiari Marwanto, dan Undang Kurnia, 2003).

Kerapatan penutupan tanah akan sangat menguntungkan untuk pencegahan erosi, mempertahankan kadar lengas tanah karena evaporasi terhambat, memperbaiki kondisi tanah karena aktivitas perakaran mempertinggi bahan organik tanah. Hasil ganda yang diperoleh dalam satu luasan lahan dapat meningkatkan pendapatan petani. Setelah tanaman dalam tumpang sari tersebut dipanen sebaiknya tanah langsung ditanami dengan tanaman pangan lain ataupun tanaman penutup tanah yang mampu tumbuh cepat untuk melindungi tanah, sehingga erosi dapat dikurangi.

http://4.bp.blogspot.com/_dyqhwg5nfwg/tbboc2kojei/aaaaaaaaacc/y35txs9alme/s1600/koropepaya.jpg

Tumpangsari pepaya dengan kacang-kacangan (sumber: http://koropedang.multiply.com/journal/item/20/Tumpangsari_)

(3). Tumpang gilir

Tumpang gilir (relay cropping) adalah cara bercocok tanam dimana satu bidang lahan ditanami dengan dua atau lebih jenis tanaman dengan pengaturan waktu panen dan tanam. Pada sistem ini, tanaman kedua ditanam menjelang panen tanaman musim pertama. Contohnya adalah tumpang gilir antara tanaman jagung yang ditanam pada awal musim hujan dan kacang tanah yang ditanam beberapa minggu sebelum panen jagung. Sistem ini diterapkan untuk mempertinggi intensitas penggunaan lahan. Penanaman tanaman kedua sebelum tanaman pertama dipanen dimaksudkan untuk mempercepat penanamannya dan masih mendapatkan air hujan yang cukup untuk pertumbuhan dan produksinya. Tanaman pertama tidak terlalu terpengaruh akibat kompetisi tanaman kedua karena tanaman pertama telah melewati fase pertumbuhan vegetatifnya. Begitu pula dengan tanaman kedua yang mendapatkan air dan hara yang cukup sehingga dapat memaksimalkan pertumbuhan vegetatifnya (Kasdi Subagyono, Setiari Marwanto, dan Undang Kurnia, 2003).

Dari segi konservasi, penutupan tanah yang rapat pada tumpang gilir mempunyai pengaruh yang cukup baik dalam menahan erosi. Penerapan teknik ini perlu diiringi dengan penerapan teknik konservasi tanah yang lain seperti penambahan bahan organik, penutup tanah dan jika perlu diterapkan tindakan sipil teknis. Mengingat intensitas tanaman yang tinggi, pemupukan juga perlu dilaksanakan. Penambahan sisa tanaman yang dijadikan mulsa akan mengoptimalkan kemampuan tanah dalam menahan erosi selain menyediakan kebutuhan tanaman akan hara. Pola tanam yang diintroduksikan harus mampu meningkatkan efektivitas penggunaan lahan dan penggunaan air melalui pertimbangan biofisik lahan dan sosial ekonomi suatu wilayah. Perbedaan pola tanam menghasilkan komoditas serta intensitas pertanaman yang berbeda. Pola tanam juga diharapkan dapat meningkatkan efisiensi penggunaan hara terutama jika pola tanam yang diintroduksi mencakup tanaman-tanaman dengan kedalaman perakaran yang berbeda.

Pola tanam dengan mempertimbangkan kondisi iklim dapat disajikan sebagai berikut (Agus et al., 1999):

a. Bila bulan kering dalam satu tahun tidak ada atau hanya satu bulan, dapat dilakukan pertanaman sepanjang tahun.

b. Bila bulan kering 2-3 bulan setahun, dapat dilakukan pertanaman sepanjang tahun tetapi dengan perencanaan lebih hati-hati terhadap teknik konservasi tanahnya, pemeliharaan, pemupukan, dan pemanenannya.

c. Bila bulan kering 4-6 bulan setahun, dapat dilakukan dua kali penanaman dengan tumpang gilir.

d. Bila bulan kering 7-9 bulan setahun, pertanaman dapat dilakukan sekali, selebihnya ditanami tanaman penutup tanah.

e. Bila bulan kering sepanjang tahun, daerah tersebut tidak cocok untuk tanaman pangan bila tanpa irigasi atau sistem pemanenan air.


http://www.fao.org/docrep/003/t0757e/t0757e13.gif

Pola tanam bertumpu pada kondisi curah hujan (sumber: http://www.google.co.id/)

Pola tanam dalam setahun yang melibatkan padi dan palawija. Padi merupakan tanaman serealia utama, dan tanaman lainnya juga digunakan dalam pola tanam dengan anggapan untuk meningkatkan produksi hijauan pakan ternak. Tanaman palawija meliputi cowpeas, maize, groundnut, pigeon pea, sorghum dan ubijalar. Kriteria pemilihan tanaman sela adalah:


  • Jenis ternak yang dipelihara.

  • Komplementaritas tanaman pangan dan tanaman pakan.

  • Potensi menghasilkan hijauan dan biomasa residu (seresah)

  • Promosi kesuburan tanah.

  • Tahan kekeringan dan musim kering yang panjang.

  • Tahan naungan pada lahan kering.

  • Kebutuhan sumberdaya.

Penelitian tentang karakteristik curah hujan, karakteristik tanah, metode pemupukan, varietas unggul, pengendalian hama dan penyakit, pemasaran maupun sosial dan ekonomi pedesaan sangat diperlukan dalam menentukan pola tanam di suatu wilayah dan keberhasilan penerapannya oleh petani. Penerapan pola tanam tidak dapat dipisahkan dengan karakteristik curah hujan, karena tiap-tiap tanaman memiliki respon yang berbeda terhadap ketersediaan air. Karena distribusi curah hujan tidak merata sepanjang tahun, maka model pola tanam yang didasari dengan distribusi curah hujan akan memberikan hasil yang lebih baik. Salah satu model pola tanam yang diterapkan di DAS Jratunseluna (P3HTA, 1988). Masing-masing adalah:

a. Model A: kacang tanah tumpang sari dengan jagung disisipi oleh ubi kayu dan diikuti oleh kacang tanah.

b. Model B: kacang tanah tumpang sari dengan jagung disisipi oleh ubi kayu dan diikuti oleh cabai.

c. Model C: kacang tanah tumpang sari dengan jagung disisipi oleh ubi kayu dan diikuti mentimun.

Hubungan curah hujan dan hari hujan dan beberapa alternatif pola tanam di Desa Kandangan, Semarang tahun 1986/1987 (P3HTA, 1988)



DAFTAR PUSTAKA

Abdurachman A., Sutono, dan I. Juarsah. 1997. Pengkayaan bahan organik tanah dalam upaya pelestarian usaha tani lahan kering di DAS bagian hulu.hlm. 89-105 dalam Prosiding Pertemuan Pembahasan dan Komunikasi Hasil Penelitian Tanah dan Agroklimat. Makalah Review. Cisarua-Bogor, 4-6 Maret 1997. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor.

Abdurachman, A., A. Barus, Undang Kurnia, dan Sudirman. 1985. Peranan pola tanam dalam usaha pencegahan erosi pada lahan pertanian tanaman semusim. Pembrit. Penel. Tanah dan Pupuk 4:41-46.

Abdurachman, A., dan S. Sutono. 2002. Teknologi pengendalian erosi lahan berlereng. hlm.103-145 dalam Teknologi Pengelolaan Lahan Kering: Menuju Pertanian Produktif dan Ramah Lingkungan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian.

Abdurachman, A., S. Abujamin, dan Suwardjo. 1982. Beberapa cara konservasi tanah pada areal pertanian rakyat. Disampaikan pada Pertemuan Tahunan Perbaikan Rekomendasi Teknologi tgl. 13-15 April. Pusat Penelitian Tanah, Bogor (Tidak dipublikasikan).

Abujamin, S. 1978. Peranan rumput dalam usaha konservasi tanah. Seminar LP. Tanah, 8 Juli 1978 (Tidak dipublikasikan).

Abujamin, S., A. Adi, dan U. Kurnia. 1983. Strip rumput permanen sebagai salah satu cara konservasi tanah. Pembrit. Penel. Tanah dan Pupuk 1: 16-20.

Adiningsih, J.S. dan Mulyadi. 1992. Alternatif teknik rehabilitasi dan pemanfaatan lahan alang-alang. hlm. 29-46 dalam Prosiding Seminar Lahan Alang-alang: Pemanfaatan Lahan Alang-alang untuk Usahatani Berkelanjutan. Bogor, 1 Desember 1992. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor.

Agus, F., A. Abdurachman, A. Rachman, S.H. Tala’ohu, A Dariah, B.R. Prawiradiputra, B. Hafif, dan S. Wiganda. 1999. Teknik Konservasi Tanah dan Air. Sekretariat Tim Pengendali Bantuan Penghijauan dan Reboisasi Pusat. Jakarta.

Agus, F., A.Ng. Ginting, dan M. van Noordwidjk. 2002. Pilihan Teknologi Agroforestri/Konservasi Tanah untuk Areal Pertanian Berbasis Kopi di Sumberjaya, Lampung Barat. International Centre for Research in Agroforestry, Bogor.

Agus, F., A.Ng. Ginting, U. Kurnia, A. Abdurachman, and P. van der Poel. 1998. Soil erosion research in Indonesia: Past experience and future direction. pp. 255-267. In F.W.T. Penning de Vries, F. Agus, and J. Kerr (Eds.). Soil Erosion at Multiple Scales: Principles and Methods for Assessing Causes and Impacts. CAB International, Wallingford, UK.

Anonim, 1986. Petunjuk Pelaksanaan Penyusunan Rencana Teknik Lapangan Rehabilitasi Lahan dan Konservasi tanah. Departemen Kehutanan. Jakarta.

Arsyad, S. 1976. Pengawetan Tanah dan Air. Departemen Ilmu-Ilmu Tanah Fakultas Pertanian IPB. Bogor.

Arsyad, S. 1989. Konservasi Tanah dan Air. Penerbit IPB. Bogor.

Bezkorowajnyi, P.G.; Gordon, A.M.; McBride, R.A. 1993. The effect of cattle foot traffic on soil compaction in a silvo-pastoral system. Agroforestry Systems. 21: 1-10.

Clason, T.R. 1995. Economic implications of silvipastures on southern pine plantation. Agroforestry Systems. 19: 227-238.

Dariah, A., S. Damanik, S.H. Tala'ohu, D. Erfandi, A. Rachman, dan N.L. Nurida. 1998. Studi teknik konservasi tanah pada lahan pertanaman akar wangi di Kecamatan Semarang, Kabupaten Garut. hlm. 185-197 dalam Prosiding Lokakarya Nasional Pembahasan Hasil Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai: Alternatif dan Pendekatan Implementasi Teknologi Konservasi Tanah. Bogor, 27-28 Oktober 1998. Sekretariat Tim Pengendali Bantuan Penghijauan dan Reboisasi Pusat. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Bogor.

Erfandi, D., Ai Dariah, dan H. Suwardjo. 1989. Pengaruh Alley cropping terhadap erosi dan produktivitas tanah Haplothrox Citayam. hlm. 53-62 dalam Prosiding Pertemuan Teknis Penelitian Tanah Bidang Konservasi Tanah dan Air. Bogor, 22-24 Agustus 1989. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor.

Erfandi, D., H. Suwardjo, dan O. Sopandi. 1994. Alternatif teknologi penanggulangan lahan kritis akibat perladangan berpindah di Propinsi Jambi. hlm. 1-10 dalam Risalah Hasil Penelitian Peningkatan Produktivitas dan Konservasi Tanah untuk Mengatasi Masalah Perladangan Berpindah. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor.

FAO. 1976. Soil Conservation for Development Countries. Soil Bulletin No. 30.

Foth, H.D. 1995. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Foth, H.D., 1995. Dasar-dasar Ilmu Tanah. (Fundamentals of Soil Science). Gadjah Mada Univesity Press. Yogyakarta.

Hamilton, L.S. dan P.N.King, 1997. Daerah Aliran Sungai Hutan Tropika (Tropical Forested Watersheds). Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Harsono, 1995. Hand Out Erosi dan Sedimentasi. Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta

Haryati, U., Achmad Rachman, dan A. Abdurachman. 1990. Aplikasi mulsa dan pupuk hijau Sonosiso untuk pertanaman jagung pada tanah Usthorthents di Gondanglegi. hlm. 1-8 dalam Risalah Pembahasan Hasil Penelitian Pertanian Lahan Kering dan Konservasi Tanah. Tugu-Bogor, 11-13 Januari 1990. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan, Tanah dan Air (P3HTA), Salatiga, Departemen Pertanian.

Haryati, U., Haryono, dan A. Abdurachman. 1995. Pengendalian erosi dan aliran permukaan serta produksi tanaman dengan berbagai teknik konservasi pada tanah Typic Eutropepts di Ungaran, Jawa Tengah. Pembrit. Penel. Tanah dan Pupuk 13: 40-50.

Irawan. 2002. Investment analysis of Alley cropping for sustainable farming of sloping lands. p. 51-62. In Proceedings Management of Sloping Lands for Sustainable Agriculture Final Report of Asialand Sloping. Land Project, Phase 4.

Jaindl, R.G.; Sharrow, S.H. 1988. Oak/Douglas-fir/sheep: A three crop silvopastoral system. Agroforestry Systems. 6: 147-152.

Kasdi Subagyono, Setiari Marwanto, dan Undang Kurnia. 2003. TEKNIK KONSERVASI TANAH SECARA VEGETATIF. Seri Monograf No. 1. Sumber Daya Tanah Indonesia. BALAI PENELITIAN TANAH. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian.

Killham, K. 1994. Soil Ecology. Cambridge University Press.

Kurnia, U., Ai Dariah, Suwarto, dan K. Subagyono. 1997. Degradasi lahan dan konservasi tanah di Indonesia: Kendala dan pemecahannya. hlm. 27-45 dalam Prosiding Pertemuan Pembahasan dan Komunikasi Hasil Penelitian Tanah dan Agroklimat: Makalah Review. Cisarua-Bogor, 4-6 Maret 1997. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor.

Kurnia, U., N. Sinukaban, F.G. Suratmo, H. Pawitan, dan H. Suwardjo, 1997. Pengaruh teknik rehabilitasi lahan terhadap produktivitas tanah dan kehilangan hara. Jurnal Tanah dan Iklim 15: 10-18.

Kurnia, U., Sudirman, dan H. Kusnadi. 2002. Teknologi rehabilitasi dan reklamasi lahan kering. hlm. 147-181 dalam Teknologi Pengelolaan Lahan Kering Menuju Pertanian Produktif dan Ramah Lingkungan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, Bogor.

Lal, R. 1978. Influence of tillage methods and residue mulches on soil structure and infiltration rate. p. 393-402. In Emerson, W.W., R.D. Bond, and A.R. Dexter (Eds.) Modification of Soil Structure. John Willey & Sons. Chichester, New York, Brisbane, Toronto.

Lewis, C.E.; Burton, G.W.; Monson, W.G.; McCormick, W.C. 1983. Integration of pines, pastures, and catte in south Georgia. Agroforestry Systems. 1: 277-297.

Mawardi, M., 1991. Hand Out Hidrologi Pertanian. Program Studi Mekanisasi Pertanian Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

P3HTA. 1987. Penelitian Terapan Pertanian Lahan Kering dan Konservasi. hlm. 6. UACP-FSR. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian.

P3HTA. 1988. Laporan Tahunan 1986/1987. UACP-FSR. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian.

Priyono, N.S. dan Siswamartana S. 2002. Hutan Pinus dan Hasil Air. Pusat Pengembangan Sumber Daya Hutan Perhutani, Cepu.

Puslittanak. 1991. Laporan Tahunan 1988/1989. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor.

Rachman, A., A. Abdurachman, Umi Haryati, dan Soleh Sukmana. 1990. Hasil hijauan legum, panen tanaman pangan dan pembentukan teras dalam istem pertanaman lorong. hlm. 19-25 dalam Risalah Pembahasan Hasil Penelitian Pertanian Lahan Kering dan Konservasi Tanah. Tugu-Bogor, 11-13 Januari 1990. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan, Tanah dan Air (P3HTA), Salatiga. Departemen Pertanian.

Rachman, A., H. Suwardjo, R.L. Watung, dan H. Sembiring. 1989. Efisiensi teras bangku dan teras gulud dalam pengendalian erosi. hlm. 11- 17 dalam Risalah Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian Pertanian Lahan Kering dan Konservasi Tanah di Daerah Aliran Sungai. Batu- Malang, 1-3 Maret 1989. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan, Tanah dan Air (P3HTA), Salatiga. Departemen Pertanian.

Sharrow, S.H.; Fletcher, R.A. 1995. Trees and pastures: 40 years of agrosilvopastoral experience in western Oregon. In: Rietveld, W.J., tech. coord. Agroforestry and sustainable systems: Symposium proceedings; 1994 August 7-10; Fort Collins, CO. General Technical Report RM-GTR-261. Fort Collins, CO: U.S. Dept. of Agriculture, Forest Service, Rocky Mountain Forest and Range Experiment Station: 47-52.

Sinukaban, N. 1994. Membangun Pertanian Menjadi Lestari dengan Konservasi. Faperta IPB. Bogor.

Sinukaban, N., 2003. Bahan Kuliah Teknologi Pengelolaan DAS. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Subagyono, K., T. Vadari, Sukristiyonubowo, R.L. Watung, and F. Agus. 2004. Land Management for Controlling Soil Erosion at Micro catchment Scale in Indonesia. p. 39-81. In Maglinao, A.R. and C. Valentin (Eds.) Community-Based Land and Water Management Systems for Sustainable Upland Development in Asia: MSEC Phase 2. 2003 Annual Report. International Water management Institute (IWMI). Southeast Asia Regional Office. Bangkok. Thailand.

Suhardjo, M., A. Abas Idjudin, dan Maswar. 1997. Evaluasi beberapa macam strip rumput dalam usaha pengendalian erosi pada lahan kering berteras di lereng perbukitan kritis D.I. Yogyakarta. hlm. 143-150 dalam Prosiding Seminar Rekayasa Teknologi Sistem Usahatani Konservasi. Bagian Proyek Penelitian Terapan Sistem DAS Kawasan Perbukitan Kritis Yogyakarta (YUADP Komponen-8). Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Sukirno, 1995. Hand Out Teknik Konservasi Tanah. Program Studi Teknik Pertanian Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Sukmana, S., H. Suwardjo, A. Abdurachman, and J. Dai. 1985. Prospect of Flemingia congesta Roxb. for reclamation and conservation of volcanic skeletal soils. Pembrit. Penel. Tanah dan Pupuk 4:50-54

Suwardjo, A. Abdurachman, and Sofijah Abujamin. 1989. The use of crop residue mulch to minimize tillage frequency. Pembrit. Penel. Tanah dan Pupuk. 8: 31-37

Suwardjo, H., Z. Kadir, dan A. Abdurachman. 1987. Pengaruh cara pemanfaatan sisa tanaman terhdap kadar bahan organik dan erosi pada tanah Podsolik Merah Kuning di Lampung. hlm. 409-424 dalam Prosiding Pertemuan Teknis Penelitian Tanah. Cipayung, 21-

Suwardjo. 1981. Peranan Sisa-Sisa Tanaman dalam Konservasi Tanah dan Air pada Usahatani Tanaman Semusim. Disertasi FPS IPB. Bogor.

Thomson, L.M. 1957. Soil and Soil Fertility. Mc Graw-Hill Book Company Inc. New York.

Troeh, F.R., J.A. Hobbs, and R.L. Donahue. 1980. Soil and Water Conservation for Productivity and Environmental Protection. Prentice-Hall, Inc., Englewood Cliffs, New Jersey. USA.

Watung, R.L., T. Vadari, Sukristiyonubowo, Subiharta, and F. Agus. 2003. Managing Soil Erosion in Kaligarang Catchment of Java, Indonesia. Phase 1 Project Completion Report. International Water management Institute (IWMI). Southeast Asia Regional Office. Bangkok. Thailand.

Wolters, G.L. 1981. Timber thinning and prescribed burning as methods to increase herbage in grazed and protected longleaf pine ranges. J. Range Management. 34: 494-497.



1   2   3   4


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©azkurs.org 2016
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə