Eugenia uniflora secara batch menggunakan pelarut etanol



Yüklə 1,76 Mb.
səhifə1/5
tarix01.08.2017
ölçüsü1,76 Mb.
  1   2   3   4   5
OPTIMASI LAJU PERPINDAHAN MASSA PADA PROSES EKSTRAKSI FLAVONOID DARI DAUN DEWANDARU (Eugenia uniflora) SECARA BATCH MENGGUNAKAN PELARUT ETANOL

MAKALAH
Ditulis untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Metodologi Penelitian sebagai Latihan dalam Menyusun Proposal Skripsi

Disusun oleh :

Alfonsina Abat Amelenan Torimtubun 115061100111027

Lilis Triyowati Andriani 115061101111009




PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2014

DAFTAR ISI



DAFTAR ISI 2

RINGKASAN 3

Kata kunci : dewandaru (Eugenia uniflora), flavonoid, ekstraksi padat-cair, kromatografi, spektrofotometri UV-Vis 3

BAB I
PENDAHULUAN 3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 5

2.1 Dewandaru 5

2.2 Flavonoid 5

2.3 Ekstraksi 6

2.3.1 Pengertian Ekstraksi 6

2.3.2 Ekstraksi Padat-Cair 6

2.4 Etanol 7

2.5 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ekstraksi Padat-Cair 8

2.6 Kromatografi Lapis Tipis (KLT) 9

2.7 Spektrofotometri UV-Vis 9

2.8 Peneliti Terdahulu 9

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN 12

3.1 Bahan 12

3.2 Alat 12

3.3 Variabel Penelitian 12

3.4 Prosedur Penelitian 12

TIME TABLE PENELITIAN 18

DAFTAR ANGGARAN 23

DAFTAR PUSTAKA 25


RINGKASAN

Indonesia berada di garis khatulistiwa dan memiliki curah hujan tinggi sekitar 200 – 3000 mm/tahun sehingga banyak tanaman yang tumbuh subur di Indonesia. Salah satu tanaman yang tumbuh di hutan Indonesia adalah dewandaru (Eugenia uniflora). Dewandaru merupakan tumbuhan dikotil penghasil flavonoid. Flavonoid merupakan senyawa aktif yang dapat digunakan sebagai antiradikal, antioksidan, antibakteri dan antiinflamasi. Beberapa sumber flavonoid yang tersedia di Indonesia ada pada tanaman gulma siam (Eupatorium odoratum), biji pinang (Arcea catechil), daun kecombrang (Nicolaia speciosa Horn), daun kacang panjang (Vigna sinensis L), teh hijau (Camellia sinensis) serta dewandaru (Eugenia uniflora). Dipilih dewandaru karena tanaman ini dibanding tanaman yang mengandung flavonoid lainnya dibiarkan tumbuh liar dan jarang dimanfaatkan oleh masyarakat.

Flavonoid dapat diperoleh dari daun dewandaru menggunakan metode ekstraksi padat-cair secara batch pada suatu labu leher tiga yang dilengkapi dengan motor pengaduk, pendingin balik, thermometer dan media pemanas. Secara teoritis berdasarkan koefisien perpindahan massanya, faktor yang mempengaruhi efektifitas ekstraksi flavonoid daun dewandaru antara lain kecepatan pengadukan, waktu operasi dan ukuran partikel. Melalui penelitian ini, akan dikaji dan dipelajari beberapa faktor tersebut untuk diperoleh ketetapan perpindahan massa dan koefisien laju diffusivitas optimal dari esktrak flavonoid daun dewandaru. Proses ekstraksi pada penelitian ini terjadi dua tahap. Tahap pertama, serbuk daun dewandaru sebanyak 30 gram dan 200 mL n-heksana diekstraksi selama 5-7 jam dengan suhu 50oC dan tahap kedua, residu dari ekstrak di ekstraksi lagi dengan pelarut etanol 99% sebanyak 200 mL dengan suhu yang bervariasi antara lain 30, 50, 70, dan 90 oC. Waktu proses ekstraksi tahap kedua dihitung saat motor pengaduk dijalankan dengan berbagai variabel kecepatan yaitu 100 rpm, 150 rpm, dan 200 rpm. Sampel yang akan dianalisis kadar flavonoidnya diambil dalam berbagai variabel waktu operasi yaitu 120, 180,240, dan 300 menit pada masing-masing kecepatan yang telah ditentukan.

Dari berbagai variabel ekstrasi tersebut, ekstrak etanol yang diperoleh pada tahap kedua difraksinasi dengan Kromatografi Lapis Tipis Kresgel G 60 F 254 dengan eluen fase atas n-butanol: asam asetat: air, 9:2:6 (v/v) agar diperoleh kadar flavonoid yang lebih murni. Fraksinasi dilakukan dengan KLT preparatif dan setiap fraksi yang diperoleh dilarutkan dalam etanol. Penentuan kandungan senyawa flavonoid secara kuantitatif dilakukan dengan metode Spektrofotometri UV-Vis menggunakan standar rutin. Data-data percobaan yang diperoleh kemudian dibandingkan untuk mengetahui koefisien laju diffusivitas dan ketetapan laju perpindahan massa yang paling optimal untuk mendapatkan flavonoid dengan kadar tinggi.


Kata kunci : dewandaru (Eugenia uniflora), flavonoid, ekstraksi padat-cair, kromatografi, spektrofotometri UV-Vis


BAB I
PENDAHULUAN





    1. LATAR BELAKANG

Dengan kondisi wilayah yang berada di garis khatulistiwa dan memiliki curah hujan tinggi sekitar 2000 – 3000 mm per tahun, banyak tanaman dapat tumbuh subur di Indonesia. Salah satunya adalah dewandaru (Eugenia uniflora). Dewandaru merupakan tanaman dikotil berbentuk perdu, memiliki buah dan berdaun lebat dengan tinggi lebih dari 5 meter (Hutapea, 1994). Di kawasan Gunung Kawi, tanaman tersebut dibiarkan tumbuh dengan liar. Padahal banyak sekali manfaat yang diperoleh apabila tanaman tersebut dimanfaatkan dan dikelola dengan baik.

Dari penelitian yang telah dilakukan oleh Hutapea (1994), menunjukkan bahwa dewandaru mengandung tannin, alkaloid, glikosida, lycopene, β-karoten, γ-karoten, ς-karoten, phytofluene, β-cryptoxanthine, rubixanthin, alkaloid, indolizidin, piperidin dan antosianin. Pada daunnya, dewandaru kaya akan minyak atsiri dan juga mengandung zat yang dapat dimanfaatkan sebagai antiradikal yaitu flavonoid (Rahmawan, 2008).

Menurut Rahmawan (2008), flavonoid merupakan senyawa aktif yang dapat berefek sebagai antiradikal, antioksidan, antibakteri, dan antiinflamasi. Flavonoid dapat diekstrak dengan sistem ekstraksi secara batch seperti yang dilakukan oleh Rohyami (2008). Secara kuantitatif jumlah flavonoid dari tumbuhan relatif kecil. Abad (1993) hanya mendapatkan 0,28 kg (0,14%) 5,7,3’-trihidroksi-3,6,4’-trimetoksi flavon dari 200 kg Tanacentum microphyllum dan Conoclidium greggii sebanyak 2 kg hanya mengandung 0,024 kg (1,2%) 5,7,4’-trihidroksi 6,3’,5’-trimetoksi flavon.

Untuk mendapat kadar flavonoid dari dewandaru yang tinggi, dikondisikan proses ekstraksi sehingga didapat kondisi operasi terbaik. Pada ekstraksi padat-cair, terjadi perpindahan massa zat terlarut dari padatan ke badan cairan yang berlangsung dalam dua tahap, yaitu difusi zat terlarut dari dalam padatan ke permukaan padatan dan perpindahan massa zat terlarut dari permukaan padatan ke badan cairan (Mardina, 2011). Semakin besar ukuran partikel zat terekstrak, semakin lama dan tinggi suhu ekstraksi, maka semakin besar laju perpindahan massa sehingga semakin tinggi kadar flavonoid yang terekstrak (Gaedcke, 2005). Interaksi solute dengan padatan semakin tinggi apabila pelarut yang digunakan juga sesuai (Gaedcke, 2005). Oleh karena itu, penelitian ini mempelajari tentang pengaruh kecepatan pengadukan, suhu dan waktu ekstraksi sehingga didapat nilai koefisien difussivitas dan ketetapan laju perpindahan massa yang paling optimal untuk mendapat flavonoid dengan kadar tertinggi.




    1. RUMUSAN MASALAH

Dari uraian latar belakang, maka masalah yang akan diteliti yaitu mendapatkan nilai koefisien difussivitas dan nilai ketetapan laju perpindahan massa menggunakan metode ekstraksi padat-cair dengan memvariasikan mekanisme mekanik seperti suhu operasi, waktu operasi dan kecepatan pengadukan sehingga diperoleh kadar flavonoid tertinggi dari daun dewandaru.


    1. TUJUAN

Tujuan dari penelitian ini yaitu :

  1. Mengetahui kondisi optimum proses ekstraksi padat-cair sehingga didapat nilai koefisien difusivitas efektif dan tetapan laju perpindahan massa optimum untuk memperoleh ekstrak flavonoid dari dewandaru dengan kadar tinggi.

  2. Mengeksplorasi manfaat dari produk hayati hasil hutan dan kebun khas Indonesia.

  3. Memberi nilai tambah dan nilai jual terhadap potensi sumber daya alam lokal yaitu dewandaru.




    1. BATASAN MASALAH

Dari masalah yang telah dirumuskan, maka masalah yang ada akan dibatasi sebagai berikut :

  1. Memvariasikan perlakuan mekanik proses esktraksi (suhu, waktu dan kecepatan pengadukan) sehingga diperoleh kondisi optimum.

  2. Mendapatkan koefisien diffusivitas efektif dan tetapan laju perpindahan massa ekstraksi flavonoid dari daun dewandaru.

  3. Menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis untuk memisahkan flavonoid dari pelarut.

  4. Menggunakan spektrofotometer UV-Vis untuk menguji kandungan flavonoid yang didapat.



Kataloq: 2014
2014 -> Cü il tarixində Stomatologiya ixtisası üzrə keçirilmiş sınaq test imtahanının nəticələri
2014 -> Cü il tarixində Stomatologiya ixtisası üzrə keçirilmiş sınaq test imtahanının nəticəsi
2014 -> Cü il tarixində Stomatologiya ixtisası üzrə keçirilmiş sınaq test imtahanının nəticələri
2014 -> Cü il tarixində Stomatologiya ixtisası üzrə keçirilmiş sınaq test imtahanının nəticələri
2014 -> Мisvak вя онун XXI ясрдя истифадяси
2014 -> Üz–çənə cərrahiyyəsi 11. 11. 2014-cü il tarixində əlavə və dəyişikliklər edilmişdir. 1 Çənə oynağının çıxığının əsas səbəbi nədir?
2014 -> Cü il tarixində əlavə edilmişdir 1 Sistem hipoplaziyası zamanı hansı dişlər zədələnir?
2014 -> Вместе к высотам стоматологии
2014 -> 31(2): 106-13 Müzeyyen Kayataş, 1 Rabia Figen Kaptan
2014 -> Ankara Numune E¤itim ve Araflt›rma Hastanesi Aile Hekimli¤i Klini¤i, Asistan Dr., Ankara

Yüklə 1,76 Mb.

Dostları ilə paylaş:
  1   2   3   4   5




Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©azkurs.org 2020
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə