[ tinjauan pustaka ] Penggunaan Alat Pelindung Diri dan Kejadian Dermatitis Kontak Iritan pada Pekerja Rahma Amtiria



Yüklə 134 Kb.
Pdf görüntüsü
tarix23.02.2020
ölçüsü134 Kb.

[ TINJAUAN PUSTAKA ]

Penggunaan Alat Pelindung Diri dan Kejadian

Dermatitis Kontak Iritan pada Pekerja

Rahma Amtiria

Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung



Abstrak

Penyakit akibat kerja adalah gangguan kesehatan baik jasmani maupun rohani yang ditimbulkan karena aktivitas kerja atau

kondisi yang berhubungan dengan pekerjaan. Faktor-faktor lingkungan kerja yang dapat mempengaruhi derajat kesehatan

tenaga kerja diantaranya adalah faktor mekanik, faktor fisik, faktor biologik serta faktor kimiawi. Faktor lingkungan dapat

menyebabkan dermatitis kontak apabila tidak menggunakan alat pelindung diri (APD) secara baik dan benar. Dermatitis

kontak merupakan bentuk peradangan pada kulit dengan spongiosis atau edema interselular pada epidermis karena

interaksi dari bahan iritan maupun alergen eksternal dengan kulit. Dermatitis kontak diklasifikasikan menjadi 2 bagian besar,

yaitu dermatitis kontak iritan (DKI) yang merupakan respon nonimunologik dan dermatitis kontak alergi (DKA). Pada tempat

kerja, DKI biasanya terjadi akibat dari suatu kecelakaan kerja atau karena tidak menggunakan APD. Kebiasaan memakai APD

diperlukan untuk melindungi pekerja dari kontak dengan bahan kimia. Penggunaan sarung tangan dengan tepat dapat

menurunkan terjadinya dermatitis kontak akibat kerja baik jumlah maupun lama perjalanan dermatitis kontak. Hasil

penelitian menunjukan bahwa pekerja yang tidak lengkap menggunakan APD mengalami dermatitis sebanyak 46%,

sedangkan pekerja yang lengkap menggunakan APD hanya 8% mengalami dermatitis kontak. Pemakaian APD yang tidak

tepat dapat mencelakakan tenaga kerja karena mereka tidak terlindung dari bahaya potensial yang ada di tempat

mereka terpapar. Oleh karena itu memilih APD yang tepat merupakan hal yang perlu diperhatikan untuk mencegah DKI.

[J Agromed Unila 2015; 2(2):190-195]

Kata kunci: alat pelindung diri, dermatitis kontak, penyakit akibat kerja

The Use of Personal Protective Equipment and Incidence

of Irritant Contact Dermatitis in Workers

abstract

Occupational disease is a disorder of both physical and spiritual health that is caused due to work activities or conditions

related to the job. The factors that can affect the working environment of employees' health are mechanical factors,

physical factors, biological factors and chemical factors. The environmental factor induce the contact dermatitis if the

workers didn’t use personal protective equipmen (PPE) correctly. Contact dermatitis is an inflammation of the skin with

spongiosis or intercellular edema in the epidermis due to interaction of external irritants and allergens on skin. Contact

dermatitis is classified into two major parts, those are irritant contact dermatitis (ICD) which is nonimunologic responses and

allergic contact dermatitis (ACD). At the workplace, ICD usually occurs as a result when workers didn’t use PPE. The PPE-

wearing habit is required to protect workers from chemicals contact. Using gloves properly will decrease the incidence of

occupational contact dermatitis both in number and in duration of contact dermatitis. The research showed that workers

who use PPE incompletely had dermatitis about 46%, while the workers who use PPE completely had only 8%. Improper use

of PPE would harm the workers because they are not protected from potential dangers that exist in the place where they

were exposed. Therefore, choosing the right PPE is important to prevent ICD. [J Agromed Unila 2015; 2(2):190-195]

Keywords: contact dermatitis, occupational skin diseases, personal protective equipment

Korespondensi: Hj. Rahma Amtiria | Jl. Kiwi No. 5, Kedaton, Bandar Lampung | HP 082183505055

e-mail: rachma_amtiria95@yahoo.com



Pendahuluan

Penyakit akibat kerja adalah gangguan

kesehatan baik jasmani maupun rohani yang

ditimbulkan karena aktivitas kerja atau kondisi

yang berhubungan dengan pekerjaan. Faktor-

faktor


lingkungan

kerja


yang

dapat


mempengaruhi derajat kesehatan tenaga kerja

diantaranya adalah faktor mekanik, faktor fisik,

faktor biologik serta faktor kimiawi. Faktor

mekanik misalnya gesekan dan tekanan akibat

pemakaian terus menerus suatu alat sering

menimbulkan penebalan kulit, kalus, abrasi

dan uklus. Faktor fisik misalnya panas, lembab,

dingin, asap, tumbuh-tumbuhan, kayu, sinar

matahari dan ultraviolet dapat menyebabkan

berbagai kelainan kulit. Reaksi fototoksik dan



Rahma Amtiria ǀ Penggunaan Alat Pelindung Diri dan Kejadian Dermatitis Kontak Iritan pada Pekerja

J Agromed Unila | Volume 2 | Nomor 2 | Mei 2015 |

191

foto alergik dapat juga terjadi akibat pajanan



tertentu. Faktor biologik misalnya bakteri, ragi,

jamur, virus, dan parasit dapat menimbulkan

penyakit

kulit


primer

pada


lingkungan

pekerjaan. Infeksi bakteri sekunder dapat

merupakan

komplikasi

suatu

erupsi


eksematosa. Faktor kimiawi misalnya zat kimia

merupakan

penyebab

tersering

suatu

dermatosis



akibat

kerja,


dan

biasanya


digolongkan

menurut


pengaruhnya

pada


permukaan kulit sebagai iritan atau sensitizer.

1

Faktor



lingkungan

inilah


yang

dapat


menyebabkan dermatitis kontak apabila tidak

menggunakan alat pelindung diri (APD) secara

baik dan benar.

Dermatitis kontak merupakan bentuk

peradangan pada kulit dengan spongiosis atau

edema interselular pada epidermis karena

interaksi dari bahan iritan maupun alergen

eksternal

dengan

kulit.


2

Berdasarkan

penyebabnya, dermatitis kontak ini dibagi

menjadi dermatitis kontak iritan (DKI) dan

dermatitis kontak alergi (DKA).

3

Menurut



American

Academy

Dermatology (1994), dari semua penyakit kulit

akibat kerja, lebih dari 90% berupa dermatitis

kontak. Pada tahun 2003, dari 4,4 juta

kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang

dilaporkan,

6,2%


(269.500

kasus)


adalah

penyakit akibat kerja.

3

Data dari Balai Higiene Perusahaan



Ergonomi

dan


Kesehatan

(Hiperkes)

Departemen Tenaga Kerja Republik Indonesia

(Depnaker RI) menunjukkan hampir 80%

penyakit kulit akibat kerja adalah dermatitis

kontak akibat kerja. Pada sub bagian alergi

imunologi Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan

Kelamin Rumah Sakit Umum Pusat Nasional

(RSUPN)

Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta,



insiden dermatitis kontak akibat kerja pada

tahun 1996 adalah 50 kasus/tahun atau 11,9%

dari seluruh dermatitis kontak.

4

Bila dihubungkan dengan jenis pekerjaan,



DKI dapat terjadi pada semua pekerjaan.

Beberapa pekerjaan yang mempunyai risiko

terjadi DKI adalah petani, industri mebel dan

petukangan kayu, pekerja bangunan, tukang

las dan cat, salon dan potong rambut, tukang

cuci, serta industri tekstil. Di Jerman, angka

insiden DKI adalah 4,5 setiap 10.000 pekerja,

dimana insiden tertinggi ditemukan pada

penata rambut (46,9 kasus per 10.000 pekerja

setiap tahunnya), tukang roti dan tukang

masak.

Berdasarkan



data

penelitian

di

Indonesia pada tahun 1985, dilakukan di 14



Balai Hiperkes dilaporkan 90% penyakit kulit

akibat kerja di Indonesia adalah dermatitis

kontak akibat bahan kimia.

4

Diagnosis



DKI

dapat


dilakukan

berdasarkan anamnesis yang cermat dan

pengamatan gambaran klinis. Pemeriksaan fisik

sangat


penting,

karena


dengan

melihat


lokalisasi dan pola kelainan kulit seringkali

dapat diketahui kemungkinan penyebabnya.

Selanjutnya dilakukan pemeriksaan penunjang

untuk


membantu

menegakan

diagnosis

penyakit kulit akibat kerja.

5

Pada tempat kerja, dermatitis kontak



iritan biasanya terjadi akibat dari suatu

kecelakaan kerja atau karena kecerobohan

akibat tidak menggunakan alat pelindung diri.

Kebiasaan memakai APD diperlukan untuk

melindungi pekerja dari kontak dengan bahan

kimia. Pekerja yang selalu menggunakan

sarung tangan dengan tepat akan menurunkan

terjadinya dermatitis kontak akibat kerja baik

jumlah maupun lama perjalanan dermatitis

kontak.


5

Hasil


penelitian

Florence


(2008),

menunjukan bahwa pekerja yang tidak lengkap

menggunakan

APD


mengalami

dermatitis

sebanyak

46%,


sedangkan

pekerja


yang

lengkap


menggunakan

APD


hanya

8%

mengalami dermatitis kontak.



4

Menurut Lestari dan Utomo (2007),

melaporkan

bahwa


pekerja

dengan


penggunaan APD yang baik sebanyak 10 orang

(41,7%) dari 24 pekerja terkena dermatitis

kontak iritan. Sedangkan dengan penggunaan

APD yang kurang baik, pekerja yang terkena

dermatitis kontak iritann sebanyak 29 orang

(51,8%) dari 56 pekerja. Kelompok pekerja

yang

kadang-kadang



menggunakan

APD


mempunyai resiko 8,556 kali lebih tinggi

terkena dermatitis kontak iritan dibandingkan

dengan

kelompok


pekerja

yang


selalu

menggunakan APD.

4

Isi

Dermatitis kontak merupakan bentuk

peradangan pada kulit dengan spongiosis atau

edema interselular pada epidermis karena

interaksi dari bahan iritan maupun alergen

eksternal

dengan

kulit.


2

Faktor-faktor

penyebab dermatitis kontak dikelompokkan

menjadi dua yaitu penyebab langsung (sifat

zat, kelarutan, formulir (gas, cair, padat),

konsentrasi, lama kontak) dan penyebab tidak



Rahma Amtiria ǀ Penggunaan Alat Pelindung Diri dan Kejadian Dermatitis Kontak Iritan pada Pekerja

J Agromed Unila | Volume 2 | Nomor 2 | Mei 2015 |

192

langsung (usia, gender/ jenis kelamin, ras,



personal

hygiene, penggunaan

APD, dan


pengetahuan). Dermatitis kontak mengenai

semua usia tetapi lebih sering diderita oleh

orang dewasa dan tertinggi pada usia produktif

25-44 tahun. Dari jenis kelamin terjadinya

dermatitis kontak lebih banyak wanita dari

pada pria.

6

Menurut predilepsi dermatitis



kontak paling sering di tangan, karena tangan

merupakan bagian organ yang paling sering

digunakan

untuk


pekerjaan

sehari-hari.

Penderita penyakit ini berhubungan dengan

pekerjaan. Diantara pasien usia kerja, penyakit

kulit menempati urutan ketiga dari seluruh

penyakit akibat kerja pada umumnya, dengan

kejadian dermatitis kontak sendiri 70 - 90%

dari semua penyakit akibat kerja.

3

Berdasarkan penyebabnya, dermatitis



kontak ini dibagi menjadi dermatitis kontak

iritan (DKI) dan dermatitis kontak alergi (DKA).

3

Dermatitis Kontak Alergi (DKA) adalah suatu



dermatitis (peradangan kulit) yang timbul

setelah kontak dengan alergen melalui proses

sensitisasi. Penyakit ini timbul akibat terjadinya

reaksi hipersensitivitas tipe lambat terhadap

suatu alergen eksternal.

7

Sedangkan DKI



merupakan respon nonimunologik setelah

terjadi pajanan bahan fisika atau kimia dari luar.

Reaksi DKI ini bersifat nonspesifik yang bisa

terjadi pada semua populasi manusia dan tidak

membutuhkan sensitisasi. Secara umum DKI

merupakan penyakit kulit akibat kerja yang

paling banyak, persentasenya mencapai 80%

dari kasus-kasus penyakit kulit akibat kerja.

2

Pada DKI, pajanan pertama terhadap iritan



telah mampu menyebabkan respons iritasi

pada kulit. Sel T memori tidak berperan dalam

timbulnya DKI. Terdapat empat mekanisme

utama yang saling berinteraksi dalam kejadian

DKI yaitu kehilangan lipid dan substansi

pengikat air epidermis, kerusakan membran sel,

denaturasi keratin pada epidermis dan efek

sitotoksik langsung.

5

Telah dibuktikan bahwa



sistem imun nonspesifik berperan dalam

patogenesis DKI.

Pajanan terhadap iritan

menyebabkan

reaksi

inflamasi



berupa

vasodilatasi dan infiltrasi sel pada dermis dan

epidermis

akibat


pelepasan

sitokin


pro-

inflamatorik interleukin-1

sebelum terjadi

kerusakan kulit. Sel-sel yang berperan dalam

proses ini adalah keratin, makrofag, netrofil,

eosinofil dan sel T. Gambaran histologis

respons inflamasi DKI berupa spongiosis dan

pembentukan mikrovesikel.

8

Pada dermatitis kontak iritan kelainan



kulit

timbul


akibat

kerusakan

sel

yang


disebabkan oleh bahan iritan melalui kerja

kimiawi maupun fisik. Bahan iritan merusak

lapisan tanduk, dalam beberapa menit atau

beberapa jam bahan-bahan iritan tersebut

akan

berdifusi



melalui

membran


untuk

merusak lisosom, mitokondria dan komponen-

komponen inti sel. Rusaknya membran lipid

keratinosit maka fosfolipase akan diaktifkan

dan membebaskan asam arakidonat akan

membebaskan prostaglandin dan leukotrien

yang akan menyebabkan dilatasi pembuluh

darah dan transudasi dari faktor sirkulasi dari

komplemen dan sistem kinin. Juga akan

menarik


neutrofil

dan


limfosit

serta


mengaktifkan

sel


mast

yang


akan

membebaskan histamin, prostaglandin dan

leukotrien. Platelet activating factor akan

mengaktivasi

platelets

yang


akan

menyebabkan

perubahan

vaskuler.

Diasil

gliserida akan merangsang ekspresi gen dan



sintesis protein. Pada dermatitis kontak iritan

terjadi kerusakan keratinosit dan keluarnya

mediator-mediator.

Sehingga


perbedaan

mekanismenya dengan dermatis kontak alergik

sangat tipis yaitu dermatitis kontak iritan tidak

melalui fase sensitisasi. Ada dua jenis bahan

iritan yaitu iritan kuat dan iritan lemah. Iritan

kuat akan menimbulkan kelainan kulit pada

pajanan pertama pada hampir semua orang,

sedang iritan lemah hanya pada mereka yang

paling rawan atau mengalami kontak berulang

- ulang.


8

Di Amerika, DKI sering terjadi pada

pekerjaan yang melibatkan kegiatan mencuci

tangan atau paparan berulang pada kulit

terhadap air, bahan makanan atau iritan

lainnya. Pekerjaan yang berisiko tinggi meliputi

pembatu rumah tangga, pelayan rumah sakit,

tukang masak, dan penata rambut. Prevalensi

dermatitis tangan karena pekerjaan ditemukan

sebesar 55,6% di intensive care unit dan 69,7%

pada pekerja yang sering terpapar (dilaporkan

dengan frekuensi mencuci tangan > 35 kali

setiap pergantian). Penelitian menyebutkan

frekuensi mencuci tangan > 35 kali setiap

pergantian memiliki hubungan kuat dengan

dermatitis tangan karena pekerjaan (odd ratio

4,13). Di Jerman, angka insiden DKI adalah 4,5

setiap 10.000 pekerja, dimana insiden tertinggi

ditemukan pada penata rambut (46,9 kasus per

10.000 pekerja setiap tahunnya), tukang roti

dan tukang masak.

4

Berdasarkan jenis kelamin,



Rahma Amtiria ǀ Penggunaan Alat Pelindung Diri dan Kejadian Dermatitis Kontak Iritan pada Pekerja

J Agromed Unila | Volume 2 | Nomor 2 | Mei 2015 |

193

DKI secara signifikan lebih banyak pada



perempuan

dibanding

laki-laki.

Tingginya

frekuensi ekzem tangan pada wanita dibanding

pria karena faktor lingkungan, bukan genetik.

5

Sebagian besar lokasi dermatitis kontak



terdapat pada tangan, yaitu sekitar 80%-90%,

karena tangan merupakan organ tubuh yang

paling sering digunakan untuk pekerjaan

sehari-hari. Dermatitis juga dapat terjadi pada

wajah (12%) dan kaki (14%) dan tukang kayu

merupakan pasien terbanyak untuk dermatitis

pada wajah.

4

Pada DKI jarang pada telapak tangan dan



biasanya pada dorsal tangan, ujung jari tangan,

dan sela-sela jari tangan. Pada DKI, lesi

klinisnya dibagi menjadi lesi akut dan lesi

komulatif (kronis). Pada lesi akut, kulit akan

mengalami

eritema,


edema,

dan


dapat

berkembang menjadi bula yang bila pecah akan

mengeluarkan cairan. Rasa perih dan terbakar

akan terasa pada lesi tersebut. Nekrosis juga

bisa terjadi bila tangan bagian dorsal terkena

iritan kuat. Sedangkan DKI komulatif (kronik)

lebih sering terjadi pada kulit yang terpapar

oleh iritan lemah secara berulang - ulang.

Pasien yang terpapar iritan secara kronik, area

kulit


tersebut

bisa


mengalami

eritema,


pengelupasan, berkilat, berskuama, timbul

retakan dan bahkan ada yang mengalami

penebalan (likenifikasi).

4

Berdasarkan manifestasinya pada kulit



dapat dibagi kedalam dua stadium, diantaranya

yaitu stadium 1 terdapat kulit kering dan

pecah-pecah,

stadium


ini

dapat


sembuh

dengan sendirinya dan pada stadium 2 ada

kerusakan epidermis dan reaksi dermal. Kulit

menjadi merah dan bengkak, terasa panas dan

mudah

terangsang



kadang-kadang

timbul


papula, vesikula, krusta. Bila kronik timbul

likenifikasi. Keadaan ini menimbulkan retensi

keringat dan perubahan flora bakteri.

6

Diagnosis



DKI

dapat


dilakukan

berdasarkan

anamnesis

yang


cermat,

pemeriksaan fisik sangat penting, karena

dengan melihat lokalisasi dan pola kelainan

kulit seringkali dapat diketahui kemungkinan

penyebabnya.

Selanjutnya

dilakukan

pemeriksaan penunjang

untuk

membantu


menegakan diagnosis penyakit kulit akibat

kerja.


5

Anamnesis mengandung pertanyaan–

pertanyaan yaitu onset dan durasi, fluktuasi,

perjalanan

gejala-gejala,

riwayat


penyakit

terdahulu, riwayat keluarga, pekerjaan dan

hobi, kosmetik yang digunakan, serta terapi

yang sedang dijalani. Pertanyaan mengenai

kontaktan yang dicurigai didasarkan kelainan

kulit yang ditemukan. Misalnya, ada kelainan

kulit berupa lesi numular di sekitar umbilicus

berupa hiperpigmentasi, likenifikasi, dengan

papul dan erosi, maka perlu ditanyakan apakah

penderita memakai kancing celana atau kepala

ikat pinggang yang terbuat dari logam (nikel).

Data yang berasal dari anamnesis juga meliputi

riwayat pekerjaan, hobi, obat topikal yang

pernah digunakan, obat sistemik, kosmetika,

bahan-bahan yang diketahui menimbulkan

alergi, penyakit kulit yang pernah dialami, serta

penyakit kulit pada keluarganya.

5

Pemeriksaan klinis, hal pokok dalam



pemeriksaan dermatologis yang baik adalah

Lokasi atau distribusi dari kelainan yang ada,

karakteristik dari setiap lesi, dilihat dari

morfologi lesi (eritema, urtikaria, likenifikasi,

perubahan pigmen kulit). Pemeriksaan fisik

sangat


penting,

karena


dengan

melihat


lokalisasi dan pola kelainan kulit seringkali

dapat diketahui kemungkinan penyebabnya.

Misalnya,

di

ketiak



oleh

deodoran,

di

pergelangan tangan oleh jam tangan, dan di



kedua

kaki


oleh

sepatu.


Pemeriksaan

hendaknya dilakukan pada seluruh permukaan

kulit, untuk melihat kemungkinan kelainan kulit

lain


karena

sebab-sebab

endogen.

Pada


pemeriksaan fisik didapatkan adanya eritema,

edema


dan

papula


disusul

dengan


pembentukan vesikel yang jika pecah akan

membentuk dermatitis yang membasah. Lesi

pada umumnya timbul pada tempat kontak,

tidak berbatas tegas dan dapat meluas ke

daerah sekitarnya. Beberapa bagian tubuh

sangat


mudah

tersensitisasi

dibandingkan

bagian tubuh yang lain, sehingga predileksi

regional akan sangat membantu penegakan

diagnosis.

5

Pada pemeriksaan penunjang untuk



membantu menegakan diagnosis penyakit kulit

akibat kerja selain pentingnya anamnesa, juga

banyak

test


lainnya

yang


paling

sering


digunakan yaitu patch test. Dasar pelaksanaan

patch test adalah bahan yang diujikan (dengan

konsentrasi dan bahan pelarut yang sudah

ditentukan) ditempelkan pada kulit normal,

kemudian ditutup, biarkan selama 2 hari

(minimal 24 jam) untuk memberi kesempatan

absorbsi dan reaksi alergi dari kulit yang

memerlukan

waktu


lama.

Meskipun


penyerapan

untuk


masing-masing

bahan


Rahma Amtiria ǀ Penggunaan Alat Pelindung Diri dan Kejadian Dermatitis Kontak Iritan pada Pekerja

J Agromed Unila | Volume 2 | Nomor 2 | Mei 2015 |

194

bervariasi, ada yang kurang dan ada yang lebih



dari 24 jam, tetapi menurut para peniliti, waktu

24 jam sudah memadai untuk kesemuanya,

sehingga

ditetapkan

sebagai

standar.


Kemudian bahan tes dilepas dan kulit pada

tempat tempelan tersebut dibaca tentang

perubahan atau kelainan yang terjadi pada

kulit. Pada tempat tersebut bisa kemungkinan

terjadi dermatitis berupa eritema, papul,

edema atau fesikel, dan bahkan kadang-

kadang bisa terjadi bula atau nekrosis.

8

Menghindari pajanan bahan iritan, baik



yang bersifat mekanik, fisik maupun kimiawi,

serta menyingkirkan faktor yang memperberat

merupakan upaya pengobatan DKI

yang


terpenting. Jika upaya ini dilakukan dengan

sempurna dan tidak terjadi komplikasi, maka

DKI tersebut akan sembuh dengan sendirinya

tanpa


pengobatan

topikal.


Dapat

juga


digunakan

pelembab


(moisturizers)

untuk


mempertahankan

kelembaban

kulit

serta


memperbaiki kulit yang kering.

8

Pada tempat kerja, dermatitis kontak



iritan biasanya terjadi akibat dari suatu

kecelakaan kerja atau karena kecerobohan

akibat

tidak menggunakan APD. Kebiasaan



memakai APD diperlukan untuk melindungi

pekerja dari kontak dengan bahan kimia.

1

Menurut Occupational Safety and Health



Administration

(OSHA),


APD

didefinisikan

sebagai alat yang digunakan untuk melindungi

pekerja


dari

luka


atau

penyakit


yang

diakibatkan oleh adanya kontak dengan bahaya

(hazard) di tempat kerja, baik yang bersifat

kimia, biologis, radiasi, elektrik, mekanik dan

lainnya.

11

Lestari



dan

Utomo


(2007),

melaporkan

bahwa

pekerja


dengan

penggunaan APD yang baik sebanyak 10 orang

(41,7%) dari 24 pekerja terkena dermatitis

kontak. Sedangkan dengan penggunaan APD

yang kurang baik, pekerja yang terkena

dermatitis sebanyak 29 orang (51,8%) dari 56

pekerja. Kelompok pekerja yang kadang-

kadang menggunakan APD mempunyai resiko

8,556 kali lebih tinggi terkena dermatitis

kontak dibandingkan dengan kelompok pekerja

yang selalu menggunakan APD.

4

Pemakaian APD merupakan alternatif



terakhir dari upaya pencegahan kecelakaan

kerja. Dalam hirarki hazard control atau

pengendalian

bahaya,


penggunaan

alat


pelindung diri merupakan metode pengendali

bahaya


paling

akhir.


Artinya,

sebelum


memutuskan

untuk


menggunakan

APD,


metode-metode lain harus dilalui terlebih

dahulu dengan melakukan upaya optimal agar

bahaya atau hazard bisa dihilangkan atau paling

tidak diminimalisir.

12

Macam-macam



APD

yang


dapat

digunakan yaitu alat pelindung kepala (safety



helmet), alat pelindung mata (goggles, safety

glasses), alat pelindung muka (face shield, face

mask),

alat


pelindung

telinga


(earmuffs,

earplug), alat pelindung pernapasan (respirator),

alat pelindung tangan (gloves), alat pelindung

kaki (safety shoes), alat pelindung badan

(apron), dan alat pelindung pada ketinggian

(safety harness).

12

Dalam



pemilihan

APD


harus

memperhatikan hal-hal seperti harus sesuai

dengan

tipe/jenis



pekerjaan,

mampu


memberikan perlindungan bagi pengguna,

tidak menimbulkan bahaya keselamatan dan

kesehatan tambahan, mudah untuk digunakan

dan bentuknya harus menarik, memberi

kenyamanan bagi pengguna, harus dapat

dipakai secara fleksibel, harus memenuhi

ketentuan yang ada, tidak mudah rusak,

harganya murah dan suku cadangnya tersedia

dan tidak mengganggu gerak bagi pengguna.

13

Pemakaian APD yang tidak tepat dapat



mencelakakan tenaga kerja yang memakainya

karena mereka tidak terlindung dari bahaya

potensial

yang


ada

di

tempat



mereka

terpapar.

Oleh

karena


itu,

agar


dapat

memilih APD yang tepat maka perusahaan

harus mampu mengidentifikasi bahaya potensi

yang


ada,

khususnya

yang

tidak


dapat

dikendalikan, serta memahami dasar kerja

setiap jenis APD yang akan digunakan di

tempat kerja dimana bahaya potensial tersebut

ada.

13

Sebelum memakai APD terlebih dahulu



kita harus memahami syarat APD tersebut.

Adapun syarat penggunaan APD yaitu

APD

harus dapat memberikan perlindungan yang



kuat terhadap bahaya yang spesifik atau

bahaya yang dihadapi oleh tenaga kerja, berat

alat hendaknya seringan mungkin dan alat

tersebut


tidak

menyebabkan

rasa

ketidaknyamanan yang berlebihan, alat harus



dapat dipakai secara fleksibel, bentuknya harus

cukup menarik, alat pelindung tahan untuk

pemakaian yang lama, alat tidak menimbulkan

bahaya-bahaya tambahan bagi pemakainya

yang dikarenakan bentuk dan bahayanya yang

tidak


tepat

atau


karena

salah


dalam

menggunakannya.

Alat

pelindung



harus

Rahma Amtiria ǀ Penggunaan Alat Pelindung Diri dan Kejadian Dermatitis Kontak Iritan pada Pekerja

J Agromed Unila | Volume 2 | Nomor 2 | Mei 2015 |

195

memenuhi standar yang telah ada, alat



tersebut

tidak


membatasi

gerakan


dan

persepsi sensoris pemakainya, suku cadangnya

harus mudah didapat guna mempermudah

pemeliharaannya.

14

Sekalipun alat pelindung diri disediakan



oleh perusahaan, alat-alat ini tidak akan

memberikan manfaat yang maksimal bila cara

memakainya tidak benar. Tenaga kerja harus

diberikan pengarahan tentang manfaat dari

alat pelindung diri yang disediakan dengan

potensi bahaya yang ada, menjelaskan bahaya

potensial yang ada dan akibat yang akan

diterima oleh tenaga kerja jika tidak memakai

APD yang diwajibkan, cara memakai dan

merawat APD secara benar harus dijelaskan

pada tenaga kerja, perlu pengawasan dan

sanksi pada tenaga kerja menggunakan APD,

lalu pemeliharaan APD harus dipelihara dengan

baik


agar

tidak


menimbulkan

kerusakan

ataupun penurunan mutu dan penyimpaan

APD harus selalu disimpan dalam keadaan

bersih ditempat yang telah tersedia, sehingga

bebas dari pengaruh kontaminasi.

14

Ringkasan

Dermatitis kontak merupakan bentuk

peradangan pada kulit dengan spongiosis atau

edema interselular pada epidermis karena

interaksi dari bahan iritan maupun alergen

eksternal dengan kulit.

Berdasarkan penyebabnya, dermatitis

kontak ini dibagi menjadi dermatitis kontak

iritan (DKI) dan dermatitis kontak alergi (DKA).

Yang paling sering terkena pada pekerja adalah

DKI.

Salah satu faktor resiko terjadinya DKI



pada pekerja adalah tidak digunakannya APD

pada saat bekerja. Contohnya sarung tangan.

Tidak digunakannya sarung tangan dapat

membahayakan karena tangan adalah bagian

tubuh yang paling sering berkontak dengan

bahan-bahan iritan.



Simpulan

Pada pekerja, penggunaan APD memiliki

pengaruh yang sangat besar terhadap kejadian

dermatitis

kontak

terutama


jenis

DKI.


Penggunaan APD haruslah memenuhi syarat-

syarat pemakaian dan menghindari kesalahan

dalam pengunaannya. Sehingga bagian-bagian

tubuh dapat terhindar dari resiko bahaya

potensial dalam bekerja.

Daftar Pustaka

1.

Ridley



J.

Ikhtisar


kesehatan

dan


keselamatan kerja. Edisi ke-3. Jakarta:

Penerbit Erlangga; 2004.

2.

Darmada IGK. Dermatitis kontak pada



pekerja bangunan. Jakarta: Universitas

Indonesia; 2012.

3.

Afifah A. Faktor-faktor yang berhubungan



dengan

terjadinya

dermatitis

kontak


akibat

kerja


pada

karyawan


binatu

[skripsi].

Semarang:

Universitas

Dipenegoro; 2012.

4.

Susanti DR. Hubungan pemakaian alat



pelindung

diri


[skripsi].

Surakarta:

Universitas Muhammadiyah Surakarta;

2010.


5.

Amado A, Taylor JS, Sood A. Irritant

contact dermatitis. Dalam: Wolff K,

Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller

AS, Leffell DJ, editors.

Fitzpatrick’s

dermatologic in general medicine. Edisi

ke-7. New York: Mc Graw Hill; 2008.

6.

Djuanda S, Sularsito SA. Dermatitis atopik.



Dalam: Djuanda A, editor. Ilmu penyakit

kulit dan kelamin. Edisi ke-6. Jakarta: FK UI;

2007.

7.

Belsito DV. Contact dermatitis allergic and



irritant. Dalam: Gaspari AA, Tyring SK,

editor.


Clinical

and


basic

immunodermatology. New York: Springer;

2008.

8.

Price



SA.

Patofisiologi

konsep

klinis


proses-proses penyakit. Edisi ke-6. Jakarta:

Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2006.

9.

Dessy SS. Penerapan penggunaan alat



pelindung diri sebagai upaya perlindungan

terhadap tenaga kerja PT. Bayer Indonesia

[Skripsi]. Surakarta: Fakultas Kedokteran

Sebelas Maret; 2010.

10. Sugarda A, Santiasih I, Juniani AI. Analisa

pengaruh alat pelindung diri terhadap

allowance proses kerja pemotongan kayu

PT. PAL Indonesia [skripsi]. Semarang:

Universitas Diponegoro; 2014.

11. Cahyo AB. Keselamatan kerja bahan kimia

di

industri


[skripsi].

Yogyakarta:

Universitas Gadjah Mada; 2004.

12. Suma’mur.

Higiene

perusahaan



dan

kesehatan kerja. Jakarta: Gunung Agung;



2009.

Yüklə 134 Kb.

Dostları ilə paylaş:




Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©azkurs.org 2020
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə