Laporan resmi praktikum



Yüklə 310,41 Kb.
tarix31.01.2017
ölçüsü310,41 Kb.

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

FARMAKOLOGI EKSPERIMENTAL II
PERCOBAAN II
UJI PENETAPAN PARAMETER FARMAKOKINETIKA SUATU OBAT SETELAH PEMBERIAN DOSIS TUNGGAL MENGGUNAKAN DATA URIN DAN DARAH
hitam-putih

Disusun oleh :

Kelas C 2013

Golongan IV Kelompok 3

Nama NIM Tanda Tangan

Hari/ Tanggal Praktikum : Senin / 11November 2013

Dosen Jaga :.

Asisten Jaga :

Asisten Koreksi :
LABORATORIUM FARMAKOLOGI DAN TOKSIKOLOGI

BAGIAN FARMAKOLOGI DAN FARMASI KLINIK

FAKULTAS FARMASI UGM

YOGYAKARTA

2014

PERCOBAAN II

PENETAPAN PARAMETER FARMAKOKINETIKA OBAT SETELAH PEMBERIAN DOSIS TUNGGAL MENGGUNAKAN DATA DARAH DAN URIN


  1. TUJUAN

Agar mahasiswa mampu menetapkan dan menghitung parameter farmakokinetik obat setelah pemberian dosis tunggal berdasarkan data kadar obat dalam darah dan urin melawan waktu.


  1. DASAR TEORI

Farmakokinetika merupakan ilmu yang mempelajari kinetika absorbsi obat, distribusi, dan eliminasi (ekskresi dan metabolisme). Uraian dari distribusi dan eliminasi obat sering diistilahkan sebagai disposisi obat. Seperti telah diketahui bahwa parameter farmakokinetika adalah besaran yang diturunkan secara matematis dari model berdasarkan hasil pengukuran kadar obat utuh dan atau metabolitnya di dalam cairan hayati (darah, urin, saliva, air mata, atau cairan hayati lainnya). Kadar obat dapat ditetapkan dengan menggunakan cuplikan darah karena darah adalah tempat yang paling cepat dicapai obat. Selain itu, darah merupakan tempat yang paling logis bagi penetpan kadar obat di dalam badan. Dalam praktek uji dengan data darah paling banyak digunakan karena darahlah mengambil obat dari tempat absorpsi, menyebarkannya ke tempat dsitribusi/aksi, serta membuangnya ke organ eliminasi.

Obat berada dalam suatu keadaan dinamik dalam tubuh. Dalam suatu sistem biologik, peristiwa-peristiwa yang dialami obat sering terjadi secara serempak. Dalam menggambarkan sistem biologik yang komplek tersebut, dibuat penyederhanaan anggapan mengenai pergerakan obat itu. Suatu hipotesis atau model disusun dengan menggunakan istilah sistematik, yang memberi arti singkat dari pernyataan hubungan kuantitatif. Berbagai model matematik dapat dirancang untuk meniru proses laju absorpsi, distribusi dan eliminasi obat. Model matematik ini memungkinkan pengembangan persamaan untuk menggambarkan konsentrasi obat dalam tubuh sebagai fungsi waktu.

Dalam model matematik, tubuh dapat dinyatakan sebagai suatu susunan atau sistem kompartemen-kompartemen yang berhubungan secara timbal balik satu dengan yang lain. Suatu kompartemen bukan merupakan suatu daerah fisiologik atau anatomik yang nyata, tetapi dianggap sebagai suatu jaringan yang mempunyai aliran darah dan afinitas obat yang sama. Pencampuran obat dalam suatu kompartemen terjadi secara cepat dan homogen serta dianggap ‘diaduk secara baik’ sehingga kadar obat mewakili konsentrasi rata-rata dan tiap-tiap molekul obat mempunyai kemungkinan yang sama untuk meninggalkan kompartemen.

Penetapan parameter farmakokinetika suatu obat ini berguna untuk mengkaji kinetika absorpsi, distribusi dan eliminasinya dalam badan. Hasil kajian ini diantaranya memiliki arti penting dalam penetapan aturan dosis. Parameter farmakokinetika yang tepat digunakan untuk mengkaji kinetika absorbsi suatu obat diantaranya adalah tetapan kecepatan absorpsi (Ka), luas daerah dibawah kurva (AUC), dan fraksi obat yang diabsorpsi (Fa). Sedangkan untuk kinetika distribusi adalah (Vd dan Vdss), dan untuk kinetika eliminasi adalah klirens total (Clt), tetapan kecepatan eliminasi (Kel), dan waktu paro eliminasi (T1/2).

Cara perhitungan parameter-parameter farmakokinetika tersebut dapat dikerjakan seperti pada tabel 1 dan 2. Setelah diperoleh data kadar obat di dalam darah atau plasma lawan waktu, terlihat pada kedua tabel tersebut bahwa untuk menghitung parameter farmakokinetika setelah pemberian oral (Vd), (Clt), diperlukan parameter Fa. Parameter Fa ini diperoleh dengan membagi harga AUC oral dengan AUC intravena. Dengan kata lain, data intravena juga diperlukan untuk menghitung parameter farmakokinetika obat setelah pemberian oral.

Tabel I


Perhitungan parameter farmakokinetika obat model 1 kompartemen terbuka

Kinetika

Parameter

Perhitungan

Satuan

Intravena

Oral

  1. Absorbsi

Ka

-

Residual

Menit-1

AUC

Trapezoid

Trapezoid

mg/ml

Fa

-

AUCp.0/AUCi.v




  1. Distribusi

Vd

D/Cp

D.Fa/Cp

ml

Clt

D/AUC0.inf

D.Fa/AUC0.inf

ml/menit

  1. Eliminasi

Kel

Regresi log.linier

Regresi log.linier

Menit-1

T1/2

0,693/Kel

0,693/Kel

Menit-1

Tabel II

Perhitungan parameter farmakokinetika obat model dua kompartemen terbuka



Kinetika

Parameter

Perhitungan

Satuan

Intravena

Oral

  1. Absorbsi

Ka

-

Residual

Menit-1

AUC0.inf

B/β+A/α

M/β+L/α-N/Ka

mg/ml

Fa

-

AUCp.o/AUCi.v




  1. Distribusi

A

Residual

Residual

ml/menit

K21





Menit-1

K12

A+β-K21-Kel

A+β-K21-Kel

Menit-1

Vc







ml

Vdss





ml

  1. Eliminasi

Clt

D/AUC0.inf

D.Fa/AUC0.inf

ml/menit

β

Regresi log.linier

Regresi log.linier

Menit-1

T1/2β

0,693/β

0,693/β

Menit

Kel

α.β/K21

α.β/K21

Menit-1

Selain dengan cuplikan darah, parameter farmakokinetika suatu obat juga dapat ditetapkan dari pengukuran kadar obat atau metabolitnya di dalam urin. Sebenarnya pengukuran atau penggunaan cuplikan urin ini dapat lebih baik dari cuplikan darah, terutama jika obat diekskresikan ke dalam urin secara sempurna dalam bentuk tidak berubah. Hal tersebut dikarenakan :



  • Data urin mengukur langsung jumlah obat yang berada di dalam badan

  • Kadar obat dalam urin lebih besar daripada dalam darah

  • Volume yang tersedia lebih besar

  • Variabilitas kliren renal dapat diabaikan

Namun, penggunaan data urin juga memiliki beberapa keterbatasan, yakni:

  • Sulit diperoleh pengosongan kandung kencing yang sempurna

  • Ada kemungkinan terjadinya dekomposisi obat selaam penyimpanan

  • Ada kemungkinan terjadinya hidrolisis konjugat metabolit yang tidak stabil di dalam urin.

Akibatnya, dapat mempengaruhi jumlah total obat dalam bentuk tak berubah yang diekskresikan ke dalam urin dalam waktu tak terhingga. Dengan demikian jelas akan mempengaruhi validitas hasil perhitungan parameter farmakokinetiknya.

Metode ekskresi urin kumulatif biasanya dipergunakan untuk menetapkan parameter Kel, Ka, Fa, t1/2 , % obat yang akan diabsorpsi, jumlah obat yang akhirnya diabsorpsi, serta besar ketersediaan hayati obat (ARE).

Untuk memperoleh harga tetapan kecepatan eliminasi (Kel) tersebut di atas, dapat dikerjakan dengan metode ARE. Pengumpulan cuplikan urin setelah pemberian suatu obat, berlangsung sampai seluruh obat tak berubah praktis telah diekskresikan seluruhnya dari badan, yakni pada waktu tak terhingga (gambar 1). Harga Kel kemudian diperoleh dari plot semilogaritmik beberapa titik terakhir ARE lawan waktu. Dimana ARE ini diperoleh dengan mengurangi Ae, dengan Ae sampai waktu tertentu seperti terlihat pada gambar 2.

Dengan metode ekskresi renal, pengumpulan ekskresi renal, pengumpulan cuplikan urin, tidak diperlukan sampai seluruh obat tak berubah praktis diekskresikan secara sempurna dari badan, dan harga Kel dapat diperoleh dari plot semilogaritmik kecepatan ekskresi (dAe/dt) lawan waktu tengah seperti terlihat pada gambar 3.



gambar 1.jpg

Gambar 1. Plot numerik jumlah kumulatif obat yang diekskresikan dalam urin vs waktugambar 2.jpg

Gambar 2. Plot semilogaritmik ARE vs waktu, untuk penetapan Kel

gambar 3.jpg

Gambar 3. Plot semilogaritmik kecepatan ekskresi obat tak berubah vs waktu, guna mencari Kel.

Metode lain perhitungan tetapan laju eliminasi K dari data ekskresi urin adalah metode sigma-minus. Metode sigma-minus kadang-kadang lebih disukai daripada metode lain karena fluktuasi data laju eliminasinya diperkecil.

Perbedaan metode ARE dengan metode sigma-minus adalah sebagai berikut:



Metode RATE ( vs t mid

Metode ARE (Du –Du) vs t

Tidak perlu Du~

Perlu Du~

Kehilangan sampel tidak berubah

Kehilangan sampel berpengaruh pada Du~

Penting dalam pengosongan kandung kemih

Pengosongan kandung kemih tidak berpengaruh

Bisa untuk orde 0

Tidak bisa untuk orde 0

Bisa untuk menghitung Ke (tetapan kecepatan ekskresi) dari titik potong kurva

Tidak bisa menghitung Ke

Faktor-faktor tertentu yang dapat mempersulit untuk mendapatkan data ekskresi yang sahih adalah:



  1. Suatu fraksi yang bermakna dari obat tidak berubah harus diekskresi dalam urin

  2. Teknik penetapan kadar harus spesifik untuk obat tidak berubah, dan harus tidak dipengaruhi oleh metabolit-metabolit obat yang mempunyai struktur kimia serupa

  3. Diperlukan pengambilan cuplikan yang sering untuk mendapatkan gambaran kurva yang baik

  4. Cuplikan urin hendaknya dikumpulkan secara berkala sampai hamper semua obat diekskresi (7-10 x t1/2)

  5. Perbedaan pH urin dan volume dapat menyebabkan perbedaan laju ekskresi urin yang bermakna

  6. Subjek hendaknya diberitahu pentingnya memberikan cuplikan urin yang lengkap (yakni dengan pengosongan kandung kemih yang sempurna)

Ringkasan cara perhitungan parameter farmakokinetik dengan data ekskresi urin kumulatif :

No

Simbol

Perhitungan

1.

2.

3.


4.

5.

6



7.

8.

9.



10.

11.


12.

Tmidp (jam)

Cu (mg/ml)

V (ml)
Aei (mg)

Ae (mg)


dAe/dt (mg/jam)

Kel

At(f) (mg)

At(f)As (mg)

% obat yang diabsorpsi

Ka (jam -1)

Fa


tn-1 + tn/2

resapan yang terbaca pada masing-masing interval pengambilan cuplikan masukkan pada persamaan garis kurva baku yang dipergunakan

besarnya volume urin yang diekskresikan setiap pengambilan cuplikan

Cu X V

∑ Aei selama interval waktu pengambilan cuplikan

Aetn - Aetn-1/tntn-1



Metode ARE

Regresi linier antara X (t) lawan Y (Ln Ae – Ae) pada beberapa titik terakhir interval waktu pengambilan cuplikan.



Metode ekskresi renal

Regresi aln linier antara X (tmidp) lawan Y (Ln dAe/dt) pada beberapa titik terakhir fase eliminasi.

(1/Kel dAe/dt) + Ae

Diperoleh setalh obat praktis diabsorpsi seluruhnya. Yakni harga rata-rata At (f) dimana harganya praktis sudah tidak bertambah lagi (ajeg)

AT(f)/ At(f)As X 100%

Regresi Ln linier abtara X (t) beberapa titik fase absorbs lawan Y (Ln (1-At(f)/ At(f)As)

At(f)As/ dosis




  1. CARA PERCOBAAN

a. Alat dan Bahan





Alat :

  • Kalkulator

  • Kertas grafik semilog

  • Kertas HVS

  • Penggaris

  • Alat tulis

Bahan :


  • Data percobaaan

b. Cara Kerja


Setiap kelompok mendapatkan data percobaan yang berupa hasil pengukuran kadar sulfametoksazol di dalam darah dan urin terhadap waktu pengambilan cuplikan
Dilakukan analisis parameter farmakokinetika sulfametoksazol dengan data darah dan urin

c. Analisis Data


1) Data darah
Data diplotkan pada kertas grafik semilog
Diasumsikan model kompartemen sulfametoksazol
Dihitung parameter farmakokinetika sulfametoksazol berdasarkan asumsi modelnya

2) Data urin


Dibuat tabel analisis data urin
Dihitung parameter farmakokinetika sulfametoksazol menggunakan metode kecepatan ekskresi dan ARE



Yüklə 310,41 Kb.

Dostları ilə paylaş:




Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©azkurs.org 2020
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə